Sebelas Patriot

Sebelas Patriot : Andrea Hirata

Sebelas Patriot : Andrea Hirata

Heyy, suprised rasanya bisa nemu buku ini. Pertama karena pengarangnya, Andrea Hirata. Kedua, karena buku berjudul Sebelas Patriot ini masih termasuk kategori new released. Yes!! Meski nggak setebal keenam buku sebelumnya, Sebelas Patriot punya ceritanya sendiri. Pada tiga buku terakhir Andrea (Maryamah Karpov-Padang Bulan-Cinta dalam Gelas) saya merasa sedikit kehilangan jejak asli Andrea. Tapi di buku ini, jejaknya kembali terasa. Andrea menggoda lewat tutur bahasa yang ringan, simpel, tapi ndalem filosofis.

Sebelas Patriot bercerita tentang kecintaan Andrea terhadap sepak bola, dukungannya terhadap PSSI dan harapannya untuk persepakbolaan Indonesia. Karena Andrea adalah penulis yang menulis based on true story, sangat wahh rasanya ketika tahu bahwa sang bapak dulunya adalah mantan pemain berbakat. Bahkan Andrea di masa kecilnya pernah menjadi pemain sepak bola yang nyaris masuk PSSI (Haha, what a life!!). Buku ini dilengkapi dengan potongan foto-foto kecil yang cukup menarik. Cerita semakin menarik di bagian perjuangan Andrea untuk mendapat kaus bertanda tangan Luis Figo. Buku ini juga disertai CD berisikan tiga lagu yang ditulis sendiri : PSSI Aku Datang, Sebelas Patriot, dan Sorak Indonesia.
A must read!!

Oyaa, ini bagian yang paling saya suka dari Sebelas Patriot.

Semua hal ada dalam sepak bola. Trompet memekakkan, kembang api yang ditembakkan dan api suar yangdilambai-lambaikan dari atas pagar pembatas olej lelaki kurus tak berbaju itu adalah perayaan kegembiraan. Bendera raksasa yang berkibar-kibar adalah psikologi. Mars penyemangat yang gegap gempita adalah seni. Orang orang yang duduk di podium kehormatan-di tempat paling nyaman menonton bola-adalah politik, dan orang orang berdasi yang sibuk dengan telepon genggamnya di belakang jajaran politisi itu adalah bisnis.

Lelaki kurus tadi, yang sehari hari berdagang asong di gerbong kereta listrik Bogor Jakarta, menabung lama demi membeli tiket menonton PSSI lalu berteriak mendukung PSSI sampai habis suaranya, hingga peluit panjang dibunyikan, adalah keikhlasan. Para pemain menunduk untuk berdoa, adalah agama. Penjaga gawang memeluk tiang gawang sebelum bertanding adalah budaya. Ratusan moncong kamera yang membidik lapangan adalah sejarah. Ayah yang membawa anak anaknya untuk menonton bola adalah cinta.

Bocah bocah murid SD Inpres di pinggiran Bekasi yang patungan untuk menyewa angkot, berdesak desakan di dalam mobil omprengan demi mendukung PSSI, adalah patriotisme. Catatan skor pada papan elektronik raksasa yang ditatap dengan perasaan senang yang meluap luap atau kecemasan yang tak terperikan, adalah sastra yang tak ada bandingnya. Menjadi penggila bola berarti menjadi bagian dari keajaiban peradaban manusia.

Menggemari tim sepak bola negeri sendiri adalah 10% mencintai sepak bola dan 90% mencintai tanah air.

-Andreanis-

One comment

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s