ParenThink Bersama Mona Ratuliu

Istilah parenting, belakangan makin sering digunakan. Kegiatan parenting pun makin menjamur. Mulai dari parenting kecil-kecilan, antar ibu-ibu kompleks, kantor, atau komunitas—berbagi pengalaman pribadi, kemudian belajar dari masing-masing anggota. Parenting dengan menghadirkan pakar atau tokoh/publik figur yang dianggap sukses di dunia pengasuhan.

Di ranah online, akun-akun sosmed yang membahas parenting pun bertebaran. Ada akun institusi/komunitas/penggiat yang memang concern pada pengasuhan. Akun milik artis dan selegram yang berbagi tips parenting dan foto-foto menggemaskan sang anak.

Banyak dan beragam. Memudahkan kita semua, siapa saja, untuk belajar.

Pada tataran praktek, mereka yang telah menjadi orangtua tentu paham betul, bagaimana parenting kemudian bukan hanya sekedar  definisi atau teori atau semacam sharing success story pengasuhan yang bisa dibaca di akun-akun sosmed. It might be something we never  know until we experience it, dan uniknya satu tema yang sama bisa jadi punya alur cerita yang berbeda-beda.

20171126_081112

Just before we started..

Saya iseng nge-google tentang makna kata parenting dan menemukan ini:
Asal katanya adalah parere (latin) yang artinya ‘bringing forth’, membawa maju (maju udah pasti ke depan dong ya!). Artinya peran parenting adalah menyiapkan anak untuk menjalani tiap tahapan dalam hidupnya hingga menjadi individu yang dewasa. Interesting!

Screenshot_2017-12-07-14-19-09-1

interesting!

Dalam skala yang lebih luas, maka sebenarnya setiap kita yang bersentuhan dengan anak-anak, dapat mengambil peran parenting tersebut sesuai dengan porsi kita masing-masing. However, semuanya dimulai dari rumah.

Saat ikut seminar forgiveness therapy dari Kang Asep, beliau menjelaskan tentang bagaimana anak-anak menyimpan pola-pola asuh dari perlakuan orangtua dan orang dewasa di sekitarnya. Kemampuan merekam ini sungguh sangat luar biasa, yang efeknya tanpa disadari kerap berulang hingga generasi berikutnya.

Belakangan saya juga tertarik dengan artikel-artikel mengenai epigeneticwhich is the ability of genes to be activate or deactivate, but does not involve changes in DNA sequence. Yang membuat saya tertarik adalah bagaimana epigenetic may consist of hal-hal kecil yang kita lakukan, semisal kebiasan tidur, makan, life-style choice, hal-hal yang kelihatannya nggak berhubungan sama sekali dengan DNA and those complicated biochemical reaction dalam tubuh ternyata juga direkam sampai di tingkat gen, dan bisa jadi diturunkan ke generasi berikutnya. Wow! Don’t you think it is amazing? (read here, to know more about epigenetic!)



“The change begins in you” begitu kata pepatah. Bahwa lepas dari apapun itu, we are the driver, kita yang memutuskan mau apa, akan kemana, bagaimana caranya.

Kaitannya dengan parenting?
Artinya parenting adalah proses yang luar biasa kompleksnya. Membayangkannya saja saya takjub. Saya membayangkan bagaimana kita kemudian berkontribusi sedemikian besarnya terhadap keturunan kita. Yang artinya jika ingin generasi yang lahir dari kita berkualitas, maka kitalah yang harus mulai memperbaiki kualitas. Dan proses ini sesungguhnya tidak dimulai saat seorang ibu hamil ataupun saat menikah. Proses dimulai jauh sebelum kita berkeluarga. Proses dimulai dari kita sebagai pribadi.

Subhanallah, Amazing!

Alhamduillah, dua pekan lalu (26/11) saya mendapat kesempatan untuk belajar di seminar parenting yang digagas oleh Andalusia Parenting Community. Temanya menarik “Tantangan Pengasuhan di Era Digital”. Pas banget dengan kebutuhan orangtua masa kini.

Screenshot_2017-12-10-18-25-06-1

Pembicara seminar (Mona Ratuliu & psikolog L. Yulhaidir) / photo: Mona Ratuliu Fb page

Ada dua pembicara utama di seminar ini. Pertama, L. Yulhaidir psikolog yang banyak membahas tentang fakta-fakta yang ada di sekitar kita sekarang ini. Tinggal di pulau kecil, seringkali membuat kita merasa aman, like what we see on TV is just on TV, padahal kasus-kasus di TV juga terjadi di sekitar kita. Beliau juga menceritakan pengalaman membersamai anak-anak dengan tantangan beragam yang sebetulnya akar masalahnya bukan dari anak itu sendiri, tapi dari orangtua, orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Ujung-ujungnya kembali lagi ke pola pengasuhan—parenting.

FB_IMG_1512900177243

sharing session Bunda Mona Ratuliu / photo: Mona Ratuliu Fb page

Pembicara kedua adalah Mona Ratuliu. Saya sendiri awalnya tak tahu banyak tentang kiprah Mba Mona di dunia parenting sampai akhirnya saya didaulat untuk ngemsi seminar ini. Saya browsing, follow Instagram, sampai akhirnya rajin baca postingan di monaratuliu.com. Pengalaman pribadi dalam mengasuh tiga orang anak, kemudain dituangkan Mba Mona lewat buku ParenThink. Judul bukunya aja udah ear-catching banget, walhasil isinya pun demikian. Simple, aplikebel, dan yang paling penting, buku  ini bisa menjadi support bagi ortu-ortu lainnya: convincing that you’re not alone facing all those parenting challenges.

20171126_103310

Yanda Indra Brasco ikutan sharing tentang parenthink!

Mba Mona berhasil menarik perhatian saya sejak menit awal. “ParenThink” adalah istilah yang ia gunakan untuk menyebut orangtua pembelajar, orangtua yang berpikir, yang cerdas; karena kunci menjadi orangtua adalah terus belajar, mengupdate diri, melakukan self-improvement agar bisa mendampingi anak-anak menuju tumbuh kembang yang maksimal.

Very Impressive.



Menariknya, Mba Mona mampu me-relate isu-isu pengasuhan yang dialami orangtua zaman sekarang dengan aplikasi teori parenting lewat bahasa yang sederhana.
Apa aja? Yuk deh saya share hal-hal menarik yang saya peroleh dari seminar parenThink.

FB_IMG_1512900130323

full seat / photo: Mona Ratuliu Fb page

1. Target asuh didik
Target asuh didik maksudnya adalah target-target “kurikulum” yang harus dipenuhi saat anak mencapai usia tertentu. Seperti halnya perkembangan fisik-motorik; 6 bulan sudah bisa duduk, 12 bulan berlari, maka perkembangan mental anak juga ada targetnya. Misalnya, anak-anak harus belajar membuat keputusan (sesimpel pilihan kapan harus mandi), bersepakat dengan orang lain, mengelola emosi, etc. Menarik, karena ortu bisa membuat kurikulumnya sendiri dan memilih strategi yang paling tepat untuk mencapai target tersebut.

“Di keluarga kami, target belajar anak-anak saya adalah agar mereka bisa mengambil keputusan mandiri dan rasional sebelum menginjak usia 13 tahun,” kata Mba Mona. So, Mba Mona merancang hal-hal yang hendak dicapai berikut strateginya, yang pastinya berbeda untuk masing-masing anak.
“Jati diri anak sudah harus terbangun dari rumah, aplikasinya dicoba di luar rumah. Bukan sebaliknya, anak mencari jati diri di luar rumah” best saying nih!

2. Parenting Ala Indonesia
Tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, telah mewariskan pesan yang luar biasa: ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Pesan ini sebetulnya ampuh banget sebagai acuan asuh didik. Anak adalah peniru ulung, kitalah yang menyediakan teladan untuk ditiru, membangun dalam proses, dan menjadi penyemangat untuk terus tumbuh berkembang.

3. Bergaul Lahir Batin
Anak bisa merasakan energi tulus yang kita berikan. Setiap ngobrol, berinteraksi, atau melakukan aktifitas sekecil apapun, lakukan dengan sepenuh hati, lahir dan batin. Seringkali, interaksi bukan tentang  lama atau sebentar, tapi kualitas interaksi tersebut.

4. Membangun Fondasi
Mba Mona membuat daftar beberapa skil penting yang harus dimiliki anak sebelum memasuki usia remaja. Skill ini ibarat fondasi bangunan, jika sudah kuat, maka anak akan terbantu saat terjun di lingkungannya, bertemu dengan orang banyak, dan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang lebih kompleks. Sebetulnya, ini juga adalah penjabaran dari poin pertama di atas. Beberapa skill tersebut diantaranya adalah: belajar kecewa, belajar memilih, belajar berjuang, dan belajar bersepakat.

5. Konsisten!
Pengasuhan butuh konsistensi. Konsistensi akan membantu anak menemukan pola hingga menjadikannya kebiasaan. Dalam praktiknya pasti akan ada saat-saat dimana orangtua galau antara terus konsisten atau kasihan. Keep practicing! Dalam hal ini, kuncinya semua ada di orangtua.

Very well delivered. I enjoyed the session so much!

IMG-20171126-WA0015

Yay! Dapet bukunya!

Nah, biar lebih komplit, langsung baca bukunya aja! Dan kalau ada kesempatan ikutan seminar Parenthink-nya Mba Mona, atau mungkin mengundang beliau jadi pembicara di kegiatan parenting. Hehehe.. Salut juga buat buibu dari Andalusia Parenting Community. Tetap semangat berbagi positif parenting yak!

FB_IMG_1512900034045

Buibu dari Andalusia Parenting Community (photo: Mona Ratuliu Fb page)

Well, saya tahu ini nggak sesimpel apa yang saya sarikan di postingan ini. Parenting is much more than just theories, sweet caption and photos, and this or that..bla..bla thingy. At the end: it’s all worth it.

IMG-20171126-WA0020

Bareng sebagian buibu panitia

Buat yang mau liat keseruan seminarnya, nih ada cuplikan video dari harian suara NTB. Diklik ya!

Youtube Seminar Parenthink Mona Ratuliu

Last word:

We are all parents.
So,
Welcome to parenting!

Advertisements

Tentang Share For Care

Saya ingat kali pertama kami bertemu—Mba Lastri, Mba Rini, dan saya— November 2013 di salah satu kafe kopi di Cakra. Di bulan Oktober kami pernah bertemu namun tidak secara spesifik membahas sesuatu. Kami hanya berkenalan.

Perkenalan pertama kami, Oktober, di Santika Hotel

November di Kafe Maktal, saya tidak ingat persis tanggal berapa, weekend, hari Sabtu, jelang sore: disitulah cerita tentang Share for Care dimulai.

Kami mengawalinya dengan cerita-cerita seputar kehidupan pribadi. Mba Lastri saat itu baru punya Raya yang umurnya belum genap 2 tahun. Mba Rini belum genap 2 tahun jadi warga Lombok. Saya masih berstatus single, free, and always available. Hahaha. Saya ingat betul, Mba Rini yang paling getol menanyakan kisah cinta saya. Kapan putus? Sekarang jalan sama siapa? Eyaaa..eyaaaa, sambil bercerita tentang kisah cintanya dengan Oom Idip yang dimulai dari sapaan ringan di Facebook. Wohooooo….

Eliyan – Lastri – Rini, diskusi pertama di Maktal

Siang itu kami sepakat meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak di Desa Segenter, setap Sabtu atau Minggu, setidaknya satu kali dalam dua minggu. Fun English. Eksekusi pekan depan.

Deal.

Kak Carlos, Kak Tomy

Awal-awal mengajar dulu..

Sebelum hari Minggu yang kami sepakati tiba, saya bertemu Carlos di Rock Gilis Café. He was maybe the most famous kid in town back then. Kami banyak bercerita tentang pengalaman di USA, wanna do this, gotta do that, bla..bla. Saya sedikit bercerita tentang rencana Minggu, dan surprisingly, he decided to join.

Deal.

Minggu pagi yang cerah, kami (Mas Fian (suami mba Lastri), Mba Lastri, Mas Idep, Mba Rini, Carlos, dan saya) mengajar untuk kali pertama ke Segenter. Our first Share for Care time.

Kami mengumpulkan anak-anak, meminta mereka membuat lingkaran besar, membaginya dalam beberapa kelompok sesuai kelas. Action time!

Good morning. How are you. I am fine. Thank you.

One. Two. Three. Four. Five.

Apple. Orange. Watermelon.

Rain rain go away.

They loved it!

We loved them.

Deal.

Seiring berjalannya waktu kami tidak lagi ber-6. Ada Tomy, Kak Ifan, sesekali Abeng. Ada Mas Yudik, Mba Pipit bersama jagoannya. Ada Mas Didi, Firman, dan Nurul. Sesekali ada Kak Guna dan Amel. Pernah bersama Kak Leony dan Kak Ona, juga Mas Wisnu. Kemudian ada Vania, Firman, Nuke. Ada Mega dan Sarah. Ada kak Vivin. Kak Hafiz. Bu Dokter Yuyun. Kak Arasy. Dan banyak lainnya yang tak bisa saya sebutkan.

Tahun 2015, saya mencatat ada sekitar 60 volunteer yang ikut bergerak bersama Share for Care.

Jumlah yang cukup fantastis untuk gerakan sederhana yang tak ber-profit. Donasi terus mengalir dari tangan-tangan dermawan yang percaya kami menjadi perpanjangan tangan mereka. Beberapa komunitas dan organisasi mengajak kami berkolaborasi. Kami bahagia menyambutnya, terbayang senyum anak-anak yang penuh harap.

Mba Rini yang paling sibuk menyiapkan bahan ajar (sampai sekarang pun!). Dia yang memastikan print out materi, color pen, buku, dan lain-lain bisa terdistribusi merata. Dia yang paling getol browsing mencari bahan ajar yang menarik. Dia yang paling cerewet memastikan semua well-planned sebelum terjun ke lapangan.

Mba Lastri biasanya sibuk dengan urusan kehumasan; mengobrol dengan Pak Kepsek, menanyakan ini itu kebutuhan sekolah, dan membuat rencana aksi bantuan.

Saya sibuk di kelas bersama pengajar lainnya. Meski tidak sibuk-sibuk amat jika dibandingkan dengan Mba Rini atau Mba Lastri. Mungkin lebih tepatnya, saya sibuk belajar. Jujur, saya belajar tentang mengajar, tentang menjadi guru, lewat Share for Care. Iya, Share for Care yang menempa saya; untuk bisa luwes ke anak-anak, bisa tetap cool meski mereka jejeritan di dalam kelas, berinteraksi dengan bahasa sederhana, memahami ragam karakter, and the list goes on and on…

Dari mba Rini saya belajar mengkreasikan pelajaran lewat lagu dan aneka permainan. Aslik, awalnya saya nggak peka soal yang satu ini. Kini, saat mengajar, secara refleks ide-ide tentang harus apa dan bagaimana agar kelas tetap hidup mengalir dengan sendirinya. Thanks God, I met Mba Rini.

Mas Idep selalu siap menjadi driver andalan. Banker gahol yang mungkin di kehidupan sebelumnya adalah seorang pak guru baik hati. Hehehe.

Pak Raya yang selalu bermurah hati meminjamkan mobilnya. Man, I miss that green Katana.

Mas Yudi dengan mobil besar yang siap mengangkut aneka donasi ditambah kue-kue lezat dari Mba Pipit.

Mas Didi yang selalu jadi supporter setia lewat Bale Digital dan siap membantu apa-pun-yang-bisa-ia-bantu.

Bu Dokter Yuyun yang gaul tapi ringan tangan, murah hati dan selalu siap sedia untuk anak-anak.

Carlos, Firman, Radhe, Nuke, Vania, yang selalu penuh energi muda dan kreatif.

Faisal, Kak Vivin.

Wulan, Devi, Bagus, the millennial kiddos.

Okay, sampai disini saya kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan semuanya satu-satu.

Terlalu banyak orang-orang hebat yang bergerak bersama lewat Share for Care.

Terima Kasih.

Ada satu yang tak pernah berubah setiap kali saya turun lapangan bersama SFC: sambutan hangat anak-anak. It’s something like they have been waiting long enough to finally meet you for two hours or so. Dan saya, selalu ada tangis haru yang saya simpan dalam-dalam setiap kendaraan kami memasuki area sekolah. Mengapa? Karena binar dan kerinduan di mata-mata itu. Sesuatu yang membuat kamu tak peduli jarak dan rintangan demi melihat binar itu di mata mereka.

Ahh, mungkin rasa seperti ini yang dirasakan mereka yang mendedikasikan hidup untuk mengajar di daerah terpencil. Mereka mencintai apa yang mereka lakukan karena binar di mata-mata anak. Binar itu adalah binar harapan masa depan.

Ada banyak dinamika dalam berkomunitas. Ini adalah sebuah konsekuensi logis. Suatu keniscayaan. Demikian juga dengan Share for Care. Pernah merasakan serunya berkegiatan dengan jumlah volunteer yang banyak, kami juga merasakan kepayahan saat relawan mulai sibuk dengan rutinitas lain yang mereka lakoni. Kehidupan kampus, pekerjaan, rumah tangga, keluarga. Keniscayaan sebagai manusia yang berproses. Ada yang pergi (dan pasti kembali!), ada juga yang datang.
Saya sendiri tak selalu bisa ikut mengajar lagi. Lebih sering alpanya ketimbang hadirnya. Ada rasa nelangsa yang tak bisa saya tuliskan perihal yang satu ini. Tapi satu yang pasti, SFC selalu di hati. Saya selalu ingat kata Mba Rini dan Mas Idep:

“Ini bukan tentang sisa waktu, tapi memberikan waktu terbaik yang kita punya”

Sudahkah (saya) memberikan waktu terbaik? 

Sebisa mungkin SFC tetap bergerak, meski perlahan. Program mengajar satu kali dua minggu ke sekolah binaan tetap berjalan. Anak-anak di SD binaan kami pastikan tak putus sekolah dengan membantu biaya sekolah mereka, mencari beasiswa pendidikan, orang tua asuh. Kami siap pasang telinga untuk curhatan guru-guru dan urun bantuan semampunya untuk membantu proses belajar-mengajar. Kami ingin membantu masyarakat setempat agar lebih berdaya secara ekonomi. Kami membuka diri selebar-lebarnya bagi mereka yang ingin bergabung, berkontribusi, lewat apa saja. Kami ingin bermitra untuk kemanfaatan.

Jika setelah membaca postingan ini kalian tertarik untuk menjadi bagian dari Share for Care, silakan klik blog share for care untuk tahu lebih banyak tentang aktifitas kami. 

Dare to share? Dare to care? 

Yuk kita bergerak bareng lagi! 

*all pictures taken from SFC Blog
 

30

Hello, world!

Hari ini, genap 30 tahun Allah memercayakan anugerah bernama kehidupan pada saya. 30 tahun sudah Allah membersamai saya, memastikan saya menikmati ragam rezeki yang diberikannya secara cuma-cuma, mengizinkan saya tumbuh di semestanya yang luas, mempertemukan saya dengan nama-wajah-sosok yang membuat saya belajar banyak, menjodohkan saya dengan lelaki terbaik, dan, tak lupa, Allah memercayai saya untuk merancang mimpi-mimpi, mendesain kehidupan dengan sebaik-baik hal yang saya harapkan. Bukankah Ia, Allah, selalu meminta hamba-Nya untuk berusaha dan senantiasa berserah? It’s not paradox. Inilah cinta-Nya Allah, yang melepaskan manusia untuk berencana sembari berbisik, “just make it, I’ll handle the rest” meyakinkan bahwa after all, semua akan baik-baik saja, selama Ia membersamai. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

How does it feel, El?

As I claimed myself as time-counter person, I have always worried about age. I was worried I haven’t done enough. I was worried that I made no improvement. Yes, I’m that kind of person. After all, today turned out just fine.

For the first time, on September 30, I didn’t expect anything as I used to as birthday-lady. Surprisingly, I enjoyed it. No celebration. No sweet words. Nothing. And everything just turned out fine.

Hari ini saya membuat beberapa coretan (termasuk tulisan ini) sebagai pengingat diri akan hal-hal yang harus disyukuri dan what’s next? Hari ini saya juga menonton youtube video milik Brandon (Human of New York) dan Agung Hafsah. Saya membaca “Sirkus Pohon” Andrea Hirata, dan terakhir mendengar beberapa lagu dari John Mayer. Yes, I’m that random.

30, ternyata, tak sepanik yang saya bayangkan sebelumnya, meski juga tak sematang yang saya pikirkan.

But, hey, I’m so ready for the 30’s journey!

P.S: Oya, saya lagi nyobain bikin animasi ala-ala di powtoon. Check out on the link below:

el’s powtoon

I’m super excited, and sure, let Allah leads 🙂

20170807_094610

Gorgeous 30

 

Tentang Saya Yang Jarang Menulis

Tulisan ini adalah semacam pengakuan atau mungkin refleksi diri. Saya meminta diri saya untuk mengungkapkan alasan-alasan (klise) yang membuat saya jarang menulis atau mungkin lebih tepatnya jarang mengupdate tulisan di blog. Saya masih tetap menulis, meski kebanyakan berakhir di folder “personal” di laptop. Kapan-kapan, isinya akan saya share satu-satu. Itupun kalau jadi. Hehehe..

Tulisan ini juga untuk menjawab rasa penasaran beberapa teman yang saban hari bertanya, “El, ga pernah update blog lagi ya?”, dan biasanya hanya saya jawab, “hoo’oh, nggak pernah.”

Jadi, kenapa kamu jarang nulis di blog lagi, El?

Merasa menulis hal yang nggak penting

Plis jangan komen tentang penting-nggak penting yang balik lagi ke taste masing-masing orang. I get that. Iya, tulisan-tulisan saya yang cuma ngendap di draft kebanyakan adalah tema curhat, kegalauan, hal remeh temeh di sekitar yang saya komentari. Hampir semuanya subjektif, no theory involved, no quotable statement. Blas. Banyak juga tulisan saya yang somehow taste-nya too personal, yang bikin mikir berkali-kali antara ngepost-nggak-ngepost-nggak. Alhasil semua berakhir di draft instead of being posted.

Your age determines your writing (?)

Ada question mark di belakang poin nomor 2. Maksudnya, “apa iya, seiring usia yang nambah, maka konten tulisan juga mestinya makin serius?” Jawaban saya nggak-nggak-iya. Nggak, karena serius nggak serius itu perihal taste. Nggak, karena nulis ya suka-suka penulisnya. Iya, karena mestinya se-nggak serius apapun tulisan itu, mesti ada sesuatu yang ngena’, something like, wow, this is it! Kalau nggak bikil orang mikir, merenung, minimal bikin ketawa. And somehow, my writing is too flat. Alhasil semua berakhir di draft instead of being posted.

Too much editing

Nothing is perfect. And too much editing, will never make you write something. Unfortunately, saya mewarisi bakat jadi editor. Mungkin itu dia kenapa, editor jarang jadi penulis, karena tugasnya memang ngedit tulisan. Dulu, zamannya masih ngurusin promosi-buku-media etc, saya bakal sedemikian pekanya dengan titik, koma, capital letter, kalimat yang nggak nyambung, bla..bla. Mungkin sejarah itu kebawa sampai di masa kini. And know that, there is always, always, always something to edit in your writing. Alhasil semua berakhir di draft instead of being posted

Not enough time

Plis ini bukan alasan saya, hahaha.. tapi alasan klise yang selalu jadi pembenaran to those who claim themselves as procrastinator. And I, myself is (sometimes) a procrastinator. Everybody is, though. (with different level) lol. 

Lepas dari alasan di atas, saya adalah orang yang juga percaya bahwa time is created, artinya kalau sesuatu itu memang benar-benar penting, kita bakal membuat, meluangkan waktu untuk hal tersebut. As simple as that.

So alasan yang benar adalah, I’m not making enough time to write. Alhasil semua berakhir di draft instead of being posted.

A-no-reason-to-tell

Nah ini! Alasan yang cuma saya yang tahu. Alasan-alasan personal yang bikin saya somehow for some time memilih untuk off dari keriuhan dunia cyber. I was there, just acting like I was not there. Alasan nomor 5 ini kadang dibungkus dengan pernyataan semacam, “I’m too busy with real world”. Whatever, tulisan akhirnya bersemayam di draft instead of being posted.

Kalau harus mencari alasan lain, maka masing-masing poin di atas bisa dijabarkan lagi ke dalam poin-poin baru. Banyak dan nggak bakal habis.

What’s next?

Menulis.

Menulis lagi.

Lagi menulis.

Create a time to write.

To write.

To write again.

Committed to write.

 

Plis El, jangan cuma wacana.

Please.

Kalau kamu, alasan apa yang bikin kamu jarang menulis?

words-0001

nyobain aplikasi word cloud 

 

 

 

 

Forgiveness Therapy: Sudahkah Kita (Benar-Benar) Memaafkan?

Seberapa banyak, seberapa sering, reaksimu terhadap peristiwa di masa kini dipengaruhi oleh masa lalu?

Itu adalah pertanyaan krusial yang muncul dalam benak saya setelah mengikuti workshop Forgiveness Therapy (FT) bersama Asep Haerul Gani, psikolog (beliau akrab dipanggil Kang Asep) selama dua hari (16-17) di bulan Juni. Ketika ditanya seputar lesson learned dari workshop tersebut, saya menemukan jawaban dari cukup banyak pertanyaan yang ujung-ujungnya muter pada bahasan “kenapa saya begini? Kenapa saya begitu? Kenapa respon saya seperti ini? Kenapa orang bertindak demikian? dan pertanyaan sejenis”. Tentunya jawabannya tak semua pasti, beberapa masih dalam ranah “bisa jadi” setidaknya sampai saya menemukan pusat reaksi (melalui eksperimen pribadi).

Tema ini bukan hal baru, mengingat suami saya beberapa kali menyebut tema ini berikut istilah-istilah di dalamnya dalam percakapan kami. Well, berhubung saya adalah tipe yang-seringkali-terlalu-banyak-nanyak-dan-nggak-lantas-percayaan, jadilah beberapa teori yang ia jelaskan justru menjadi pertanyaan yang terus-menerus saya pertanyakan (dalam diri).

IMG-20170620-WA0017

Pose bareng Kang Asep dan Bunda Ai 🙂

Misalnya saja ketika saya kurang setuju saat suami pengen manjangin rambut. “Kamu pasti punya memori kurang baik tentang rambut panjang a.k.a gondrong sampai nggak suka gini,” katanya. Jawaban saya standar, “Nggak suka ya nggak suka aja. Nggak harus ada alasannya.” Pikir saya waktu itu, “duh apa iya sampe hal sesimpel itu harus saya recall dan relate ke memori masa lalu?” Ribet.

Ternyata saya salah.

Pasca workshop FT, saya membaca beberapa buku terkait tema tersebut, browsing gugel, sambil refleksi diri. Saya membuat kesimpulan pribadi, “Preferensi, tingkah polah, reaksi, kita di masa kini, jika tidak semuanya, maka hampir sebagian besar punya kaitan dengan apa-apa yang kita alami di masa lalu”. Yang membuat saya lebih takjub lagi adalah masa lalu, past, kata atau tema yang banyak mendominasi tulisan saya di blog (saat masih rajin ngeblog, hehehe), technically bukan hanya sekedar peristiwa, bukan hanya kenangan yang jleb over gitu aja, segampang bilang forget the past and move on. Aslik nggak! Masa lalu ternyata hidup dalam bentuk emosi, dan unfortunately, ia sering bahkan sangat sering menampakkan dirinya di masa kini, meski lebih sering tidak kita sadari.

Efeknya bukan hanya reaksi emosi namun juga rentetan peristiwa yang kita alami. Kalau istilah psikologinya sih unfinished business. Misal? Orang yang kerjanya nggak betah alias jadi kutu lompat, pindah kerja sana-sini. Orang yang melulu punya masalah dengan percintaan atau hubungan personal lainnya. Seriously, kita seringkali nggak sadar, atau bahkan nggak percaya. Kenyataanya, banyak peristiwa berulang yang merupakan manifestasi dari emosi di masa lalu. Untuk referensi yang lebih banyak, silakan gugel dengan kata kuci: unfinished business, inner child, forgiveness therapy, and any like-terms.

Ngeri-ngeri sedap, cuy!

Salah satu penjelasan Kang Asep yang saya suka adalah perihal dzhalim terhadap diri sendiri. Dzalim yang muncul akibat ulah sendiri, emosi negatif yang menguasai, reaksi berlebihan terhadap hal-hal sederhana yang skenario-nya diimprovisasi sedemikian dramatis dan diputar berkali-kali. Duh Gusti, kami dzolim!

Rabbana dzolamna anfusana…….

IMG_20170704_072831

Suamik: The man behind this great workshop!

Pelan-pelan saya mulai lebih mudah me-recall memori masa lalu dan menemukan jawaban atas beberapa reaksi saya terhadap sebuah peristiwa. Uniknya, beberapa recalled moments justru muncul dari masa-masa dimana saya ada di usia pra-sekolah dan SD. You know, I love recalling past, but at this time, saya melihat masa lalu sebagai sebuah dimensi yang istimewa, bukan sekedar ingat-kemudian-tetiba-nangis- seperti yang sudah-sudah.

Berikut adalah beberapa personal note yang saya dapat dari workshop FT selama dua hari tersebut. Ulasan lainnya bisa teman-teman gugel sendiri dengan keyword setema.

  • Kita seringkali mengaku telah memaafkan, merasa telah memaafkan, meyakinkan diri telah memaafkan, padahal nyatanya BELUM.

Ini adalah PR masing-masing orang. You know, I mean, pada akhirnya yang penting bukan pada sebatas “pihak bersangkutan tahu bahwa kita sudah memaafkan”. Tapi, apa benar iya? Apakah kita sudah benar-benar memaafkan? Ingat, efek jangka panjangnya bukan pada orang lain, tapi diri kita sendiri. We don’t necessary need public’s approval. Forgiveness is an “inside” business. Work on it. Continuously.

  • Kita banyak menolak, meragukan, tidak percaya, merasa tidak butuh, merasa lebih tahu, akan hal-hal yang sebetulnya penting untuk diri kita sendiri.

This is a special note for me. Well, mungkin juga sikap saya di poin dua ini dipicu oleh skema masa lalu, hehehe. It’s okay kok, asal mau dan siap belajar. Justru hal di atas menjadi pecut untuk membaca lebih banyak, belajar lebih banyak, bergaul lebih banyak, be open minded. Once I found the truth, it always felt like a slap on my face. And I loved it!

  • Semua orang adalah guru.

Semua orang, lepas dari apapun identitas yang lekat padanya, punya belantaranya masing-masing. Baik atau buruk, suka atau tidak suka, orang-orang yang dipertemukan dengan kita adalah guru untuk belajar. Jika sudah bicara belantara, maka tangguhlah dan nikmati petualangan dalam belantaramu!

  • You’re the key to everything around you, to everything that happens to you.

Kita adalah kunci pada segala yang ada di sekitar kita. Your positivity will attract positive things and vice versa. Bahkan Allah SWT berkata, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku.” It’s never an easy work, but it’s highly possible to do and to grow as habit. Bergerak bareng, kuy!

  • Self-Exploration, Self-Discovery

Lebih tepatnya saya nggak tahu mau pakai istilah apa. Namun ternyata menarik ketika kita bisa keluar dari ke-aku-an kita, dan melihat diri dari dimensi berbeda. Mencoba mengeksplor emosi masa lalu, mengingat kembali apa-apa saja yang pernah terjadi, respon kita terhadapnya, etc..etc.. It is a huge thing! Ini sebenarnya sebagai reminder bahwa setiap hari kita memang butuh waktu untuk refleksi, as we always read in theory.

Poin ini yang membuat saya banyak me-recall masa lalu. Cognitively aware and curiously learn terhadap apa yang pernah saya alami di masa lalu hingga menimbulkan respon tertentu di masa kini

  • Kapan kita dikatakan memaafkan? Berteman dengan masa lalu?

Saat kita mengingat, mengenang, atau bercerita tentang hal-hal tidak mengenakkan tanpa melibatkan emosi negatif, tanpa perubahan biologis dalam tubuh, no more nyesek, no more self-pity. Semua berganti respon positif.

Coba recheck kembali emotional state kita saat mengingat peristiwa tidak mengenakkan.

  • Kenali Cluritmu!

Peristiwa buruk yang dianalogikan seperti clurit oleh Kang Asep bisa menjelma dalam berbagai bentuk yang dipicu oleh aneka momen dengan ragam emosi saat itu: marah, dendam, sedih, kecewa, merasa tak berharga, tak dianggap, etc..you name it. Itu semua adalah clurit! Itu semua harus pelan-pelan dikenali untuk kemudian dimaafkan! Remember: It’s okay to not be okay. Dirasakan, dinikmati, hingga meosi negatif itu mengalir keluar. When you’re done, you wake up as a brand new person! 

  • Afirmasi Positif, Good or Bad?

Afirmasi positif itu baik, namun tak jarang hanya menjadi perban luka semata sehingga perbannya harus terus-menerus ditambal agar tak bocor. This not gonna happen, kalau lukanya diobati dulu, dikeluarkan nanahnya, ditunggu kering. Jika sudah demikian maka afirmasi positif mampu menjadi magic spell.

*this is also a special note for me. Saya kerapkali merasa sudah baik dengan banyak melakukan afirmasi positif. Nyatanya saat dikulik masih nyesek. Lyf.

  • I love me more….

Terima kasih, Allah..

Di titik manapun kami berada nanti ya Allah, ingatkan kami, bahwa tidak ada secuil urusan pun yang lepas dari campur tangan-Mu. Kau percayakan kami untuk membuat pilihan-pilihan, menjalani keputusan, Kau izinkan kami memaksimalkan usaha, lalu Kau menggenapi-Nya dengan Rahman-Rahim Mu.

Jadikan kami, keluarga kami, anak keturunan kami, manfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk di semesta raya..

I love me!

IMG_20170704_072809

Nuhun, Kang Asep atas ilmunya

Closing statement untuk workshop ini thumbs up alias keren banget! Nuhun, Kang Asep, yang sudah membangunkan salah satu bagian dari diri ini.

Buat yang butuh Power Point workshop forgiveness therapy-nya Kang Asep, feel free to leave comment atau email. Untuk hal-hal lain terkait Kang Asep, semisal mau beli buku atau ikut aneka workshop-nya langsung cek kontak beliau aja.

c (1)

Pose bareng tim MSI

Sorry doesn’t seem to be the hardest word anymore.

Kuy, belajar memaafkan!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selamat Hari Lahir, Sayang…

Manusia berubah. Ternyata itu benar adanya dan sudah terlampau sering saya buktikan. Saat kecil dulu, saya pikir bahwa tak akan ada yang menggantikan serial TV super hero “pasukan turbo”. Buat saya, pasukan turbo, adalah serial TV anak-anak paling kece, mengalahkan power rangers atau satria baja hitam. Hahahaha.. but then, later on, it changed. Meski beda genre, saya terbukti lebih suka Doraemon, dan berharap kartun Ikyu San tayang lagi di TV. Sama seperti majalah Bobo. Sebagai salah satu pelanggan setia Bobo, saya sempat bilang, ahhh tak peduli meski besar nanti, saya akan tetap beli Bobo. Later on, it changed. Bacaan saya berubah. Mulai dari komik donal bebek sampai majalah Go Girl!. Bobo tetap punya tempat di hati saya, hanya saja kesukaan, preferensi, saya berubah bersama waktu.

Apa hubungannya memori masa kecil dengan ulang tahun?

Bukan pada memorinya, tapi pada perubahannya. Jika dulu saya selalu merasa bahwa hari ulang tahun adalah momen super super super spesial (I wrote it 3 times to tell you how special it was for me) sehingga WAJIB hukumnya untuk dirayakan dengan cakes and candy, foodie time with beloved ones, bunch of presents and sweet texts from everybody. Later on, it changed. Momen hari lahir tentu saja tetap spesial, hanya saja cara saya memaknai spesial tersebut menjadi berubah seiring waktu. Diantara banyak pilihan, ternyata ucapan dan doa, adalah hadiah yang paling tak lekang waktu. Dengan ucapan, maka saya tahu, bahwa seseorang, dekat atau nun jauh disana, mengingat saya, meluangkan waktunya untuk memencet tombol keyboard, keypad, menelpon sesaat atau mengirim pesan. Rasanya hangat.

Prolog yang panjang.

5 Mei, hari lahir laki-laki istimewa yang menjadi teman hidup saya. Tahun ini adalah kali ke-4 saya turut hadir dalam momen pertambahan usianya dengan status sebagai istri. Tahun-tahun sebelumnya, kami selalu merayakan momen itu di 7 Mei, sampai akhirnya saya tahu, bahwa 7 Mei adalah tanggal administratif, sementara, tanggal aslinya adalah 5 Mei.

Kali ini tidak ada perayaan. Saya hanya menyiapkan red velvet cake mini dengan skenario candle light cakey time, yang pada kenyataannya jauh dari rencana dan berujung pada kami yang tertidur pulas di tengah tumpukan laporan. Ahh, ternyata saya tidak cukup pandai merancang kejutan. Lain kali saya harus belajar untuk ini. hehe.

Jika saya ditanya tentang hadiah, maka hadiah berupa doa adalah hal terbaik yang bisa saya berikan. Bukan kemeja, sepatu, atau parfum kesukaanmu.

Tidak perlu menunggu momen ulang tahun, karena aku mendoakanmu sayang, setiap waktu. Kau menjalani hari dengan ditemani doa-doaku, doa ibumu, doa ayahmu dan doa dari mereka yang menyayangimu.

Selamat ulang tahun, Sayang..

Semoga hari-harimu diliputi kebaikan, selalu

Semoga dalam perlindungan Ilahi Rabbi, senantiasa

Semoga setiap hela nafas menjadi manfaat..

Amin ya Rabbal Alamin..

 

20170415_133849

Love is you…

A Self-Discovery

Travelling helps you discover yourself, but marriage also does. Marriage does it even much better in a way you never thought before.

That’s how I start this post. I am not asking you to be on the same boat. And it’s always okay to be agree to disagree. But, that’s exactly what cross my mind right now.

To me, self-discovery is important, as it reveals who I am. Who I am that I might not know before. The blind, the unknown area, a theory of Johari Window said. This includes hidden potential that sleeps in me for so long time. No, I’m not saying this to let people know who I think I  am. This is more like, I-am-knowing-myself.

So, it’s been almost seven months since we tied a knot on September 29. Time flies and it takes me to-some-stranger-places-I-have-never-had-an-idea-before. What I mean by “places” is actually a state of feeling, emotion, thought, and or any like-terms.

here some of what I don’t know before.

I don’t know if I ever will to spend more time to cook.

I don’t know I can be more organized.

I don’t know I can lift a heavy bed just to make sure my husband can sleep well at night.

I don’t know If I ever will to negotiate on what-to-wear instead of dressing on my so-too-much-casual-outfit.

I don’t know if I have more than enough patience than what I think I had.

and the list goes on..and on..and on

And all that’s written above is nothing compared to what’s I experience in real life. Man, I’m so much me!

To this point, marriage still amazes me with all its magical things. I wake up everyday with this kind of “today’s gonna be great adventure!” feeling. And I love it so much!

 

What about you?

PicsArt_04-07-06.09.55[1]

Celebrating the 5th anniversary of his company. I’m a proud wife. 🙂