0511-0703-2014-0514

Ujian Nasional : Mendidik atau Masih (?)

Ujian Nasional, mendidik atau masih (?)-tanda tanya. Mengapa ada tanda tanya? Menurut saya pribadi, sangat perlu dipertanyakan. Apa ia Ujian Nasional (UN) yang menjadi pintu gerbang terakhir penentuan kelulusan siswa SMP dan SMA benar-benar mendidik?? Jawabannya YA. Pilihannya adalah : mendidik yang baik atau sebaliknya (mendidik yang tidak baik).

Enam tahun yang lalu (saat saya duduk di bangku SMA), tepatnya 2005, limit standar nilai kelulusan ada di angka 4,26. Standar ini terus naik setiap tahunnya. Saat ini (2011), nilai kelulusan ditentukan 40% dari nilai sekolah dan 60% dari nilai Ujian Nasional (UN).

Kemarin saya mendengar cerita dari seorang pengawas Ujian Nasional SMP yang kebetulan bertugas mengawasi salah satu sekolah swasta. Sure, there’s no wonder! Sejak 2005 pun cerita-cerita miring seputar Ujian Nasional selalu beredar. Jumlah yang terlapor atau tertangkap di permukaan hanya sedikit dari jumlah total yang tidak tampak. One common thing adalah “kunci jawaban” yang tidak jelas darimana asalnya. Seperti kasus berikut ini, atau kendala teknis yang masih belum bisa teratasi, seperti ini.

Yak, entah darimana para siswa peserta UN mendapatkannya. Siapa yang menjawab? Kapan dijawab? Apakah jawabannya valid? Mengapa para siswa percaya pada sumber yang tidak jelas?
Jawabannya satu : siswa takut tidak lulus. Mirisnya, tidak sedikit dari para siswa yang percaya sepenuhnya pada kunci jawaban siluman yang mereka pegang. Di beberapa sekolah lainnya, UNAS bisa saja berjalan lancar, jujur dan tanpa intrik. Tapi lebih banyak mana? Yang jujur atau tidak? Lalu apa ia Ujian Nasional (UN) dikatakan mendidik dengan baik?

Petanyaan besar yang muncul kemudian adalah : bagaimana sistem pendidikan kita bisa mendidik dengan benar? Apakah dengan mengejar angka? Apakah benar angka yang dibuat dalam bentuk persentase kelulusan bisa menggambarkan pendidikan yang baik? Bukankah angka bisa dibuat-buat? Apakah angka selalu bicara jujur?

The following points are some of the weaknesses of UN (based on my point of view).

1. UN mendorong siswa untuk bertumpu pada hasil bukan proses
Proses tidak lagi menjadi hal yang urgent karena goal yang ingin dicapai siswa adalah “yang penting lulus”

2. UN is an excessive coercion
Ujian nasional menjadi tekanan yang kelewat maksa. Keinginan untuk menyetarakan kualitas pendidikan adalah hal yang sangat positif. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan di Indonesia saat ini masih sangat jauh dari kata ideal. Akses untuk pendidikan yang layak antara desa yang satu dengan yang lain, antara desa dengan kota masih harus dibenahi.

3. UN menghapus nilai kejujuran dan kepercayaan diri
Demi mengejar nilai standar dan tuntutan untuk lulus *supaya nggak malu-maluin* nilai kejujuran dan mengandalkan kemampuan diri sendiri mulai terkikis. Apa aja boleh demi cari nilai selamat.

4. UN ajang persaingan yang nggak sehat
Demi mempertahankan reputasi sekolah, nggak sedikit juga sekolah yang terlibat kecurangan.

Tujuan awal diadakannya Ujian Nasional (UN) sebagai langkah untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses pendidikan di Indonesia masih belum tercapai. Mengutip definisi pendidikan dari John Dewey (proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual, emosional ke arah alam dan sesama manusia) maka penilaian berbasis angka tidaklah sesuai dalam membangun definisi pendidikan yang utuh.

Akan sangat tepat bila Ujian Nasional (UN) dijadikan sebagai bentuk pemetaan untuk mengetahui tingkat kepahaman siswa dan pendidik (guru) terhadap kompetensi standar yang dibuat pemerintah. Bukan alat untuk memaksakan persepsi tentang “kesetaraan kualitas pendidikan.” Lebih dari itu, UN mampu menjadi jembatan penghubung berbagai masalah pendidikan, untuk dipahami, ditelaah dan dicari solusinya.

Nah, berhubung sekarang jatahnya 40% (sekolah) : 60% (UN) semoga tidak ada lagi kasus siswa tidak lulus yang berakhir miris dan tragis. Karena pendidikan tidak pernah diukur dengan angka.

2 comments

  1. iya bener banget… sekarang semua adek2 kita mengalami dekadensi moral dan perubahan paradigama dari tujuan utama yang seharusnya menjadi yang tidak seharusnya karena melakukan penyelewengan2 kecil yang berdampak besar… lalu mereka tanpa sadar terjerumus dalam satu pikiran yang tidak logis untuk berada di tujuan yang tepat… (kamu ngomong apa monck?) (ga tau… saya juga bingung sendiri..)

    ehm… yang pasti saya suka cewek imut..
    (ga nyambung abisss)

  2. There’s just something undeniably wrong about our curriculum. Seakan-akan topik pembelajaran kita dibatasi sekali. Masih mencoba trying to figure out sih dari dulu apa maksudnya ngereview materi kelas 7-9.. Balik lagi kan ujung-ujungnya we’re forced to improve our memorizing skill. When memorizing is actually not the purpose of learning. Dari situ bisa disimpulin kenapa masih banyak anak Indonesia yang males belajar. Wong, yang dipelajari itu-itu saja.

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s