FAKE PLASTIC TREES (RANDOM)

Hallo Folks.

Oke. Kali ini saya mau posting tanpa proses editing. Apa yang saya tulis kali ini adalah apa yang terlintas dalam pikiran saya (saat ini), tanpa proses re-read atau re-write. Untuk apa? No reason, just want to post my thought in an instant.

I want to talk about cyber life.

Dulu banget, sebelum ada facebook atau twitter, saya biasa menghabiskan waktu di malam hari dengan membaca buku atau sekedar menulis diary. Saat itu internet hanya untuk browsing hal-hal penting dan intensitas di depan layar pun masih sangat minim. Kemudian muncul friendster. Tapi saat itu friendster tidak mampu menyita banyak waktu saya untuk end up di dunia maya.

Akun facebook saya dibuat di awal tahun 2009. Was it late? errr…
Keberadaan jejaring sosial bikinan Mark Zuckerberg ini sukses membuat saya berekspresi lewat status dan catatan-catatan (notes). Dari status sepele semacam “Eliyan is now listening to John Mayer-Say” sampai status galau serupa “yes, maybe she’s better..it’s time to be a big girl now😦” atau status-status berupa quote sok bijak hasil ngutip sana-sini, “today is tomorrow that worried you yesterday“. See?? Saya kecanduan Facebook. Rasanya nggak afdol kalau dalam sehari nggak bikin satu-dua-atau tiga status. Nggak keren kalau dalam seminggu nggak ada foto-foto yang diupload. Lama-kelamaan membaca status teman-teman ‘maya’ yang jumlahnya ribuan -tapi nggak semua dikenal di dunia nyata- itu menjadi santapan sehari-hari.

Kemudian Twitter muncul dengan tawaran yang lebih menarik. Bisa update status berkali-kali tanpa harus dinilai too much!! sounds great, right? Maka arus facebook mulai beralih ke twitter.

Hey, what’s your point?? Nggak ada, cuma nyampah doang. Hahaha.

Maksudnya adalah; please deh Ell, kamu juga dulu pernah bikin 5 status facebook dalam sehari, So don’t give a comment! Suka-suka orangnya mau nulis apaan. If any statement disturbs you, leave facebook, don’t read, or simply ‘unfriend’ that unkown guy in your friend list. SEE? Oke, than case is closed. FINE.

What about Twitter?

Sebenarnya nggak jauh berbeda dengan facebook. Hanya saja twitter terkesan punya kasta yang lebih tinggi. Mungkin karena ada istilah ‘follower’ atau mungkin juga karena pengguna Twitter memang lebih kreatif dalam mengolah kata-kata. Sutralah, itu hanya kemungkinan lho ya.

Sialnya, keberadaan Twitter pun benar-benar menyita waktu. Sekian jam dalam seminggu yang mestinya digunakan untuk menulis di blog atau membaca majalah harus end up di linimasa twitter, membaca update terbaru dari para following, selebtwit, online media, de-el-el..de-el-el. So what’s wrong?

*sampai disini saya masih bingung sedang menulis tentang apa*

Here come the points :

Dunia maya itu memang lebih bebas dari dunia nyata. Tapi sebebas-bebasnya dunia maya tetap ada aturan tak tertulis yang harus kita sadari. Hallo baby, it’s not only your world, it’s public place.

1. Jangan keseringan update status yang isinya ‘nggak penting‘. Balik ke hak yang punya akun sih, but please remember; di facebook atau twitter kita punya teman-teman maya, maka your itsn’t only yours , tapi jadi konsumsi publik. Saat ‘sesuatu’ melibatkan lebih dari satu orang maka hubungan akan menjadi lebih kompleks, karena yang diperhatikan tidak hanya kenyamanan ‘pribadi’ tapi kenyamanan ‘bersama’.

2. Saking unlimitednya space yang ada di dunia maya seakan-akan semua orang memiliki double soul. Yang biasa-biasa saja di dunia nyata bisa jadi ‘WAH‘ banget di dunia maya, yes because we controlled it, we create it. Bukan apa-apa sih, saya cuma mau bilang “come on, life isn’t only what you type on the screen, turn your screen off, that’s another life we had“. Ya terserah sih, but please respect your true self, don’t let that other soul take control of real you.

3. RESPECT OTHER, PLEASE!! Saya nggak tau udah berapa kali *saking seringnya* nemuin orang yang dengan gampangnya ngambil foto milik orang lain, posting tulisan orang lain tanpa mencantumkan sumbernya bahkan mengakui sebagai karyanya. please deh! That’s not yours, DEFINITELY. Nggak gampang menghasilkan sebuah karya;foto, tulisan, atau apalah. Maka dari itu tolong hormati hak orang lain. Saya sendiri sering ‘gregetan’ setiap baca tulisan-tulisan atau melototin foto-foto keren (pake banget) yang berseliweran di dunia maya. Dan dengan rendah hati, saya sebagai penikmat mengakui kalau saya mungkin tidak bisa menghasilkan karya sebagus itu. Jadi apa saya harus copas dan repost tulisan atau foto orang agar ‘teman-teman maya’ saya berdecak kagum melihat talenta (palsu) saya yang luar biasa. NO!! Please don’t fake yourself!! If you simply can’t respect yourself, at least you can respect others. Karya pribadi bukan barang yang bisa dibeli seenaknya. Untuk sampai kesitu kita butuh proses dan itu nggak gampang.

*sampai disini saya mulai merasa postingan saya terlalu panjang dan penuh emosi*

Jadi?
Jadi diri sendiri itu lebih keren ketimbang jadi orang lain yang kelihatan hebat tapi nyatanya palsu. Setiap kita punya ‘sesuatu’ yang nggak dipunya orang lain, mending pupuk rumput di taman sendiri daripada nyolong rumput orang lain. Jangan lupa dengerin lagu FAKE PLASTIC TREES.

Bye.

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s