Tentang Pilihan-Pilihan

“In the end that was the choice you made, and it doesn’t matter how hard it was to make it. It matters that you did.”
― Cassandra Clare, City of Glass

Hidup ini adalah tentang pilihan-pilihan. Klise. Tapi itulah kenyataannya.

Saat ini saya coba mengingat-ingat, sebetulnya seberapa sering saya membuat pilihan dalam hidup ini? I mean, pilihan hidup. Apakah iya saya benar-benar memilih, atau saya membiarkan hidup memilih untuk saya. Seberapa sering sebetulnya saya dihadapkan dengan pilihan-pilihan hidup?

Pilihan –pilihan itu bisa jadi muncul dalam bentuk yang sederhana, meski dulunya terlihat berat. Dulu saya harus memilih antara tetap ‘nyantri’ atau sekolah di sekolah biasa. Saya sih (dulu) maunya tetap nyantri, meski akhirnya ikut pilihan ortu untuk sekolah di sekolah umum. I was worried, but I survived, and I didn’t regret. I thanked them to choose that for me, because at the end, my analysis said it worked better. Hey, tapi apakah pilihan kita dibatasi oleh situasi dan kondisi? Misalnya, saya dulunya tidak pernah tertarik untuk kuliah biologi (meski saya menuliskan biologi dalam pilihan SPMB), all I wanted was getting my Bachelor in communication, anything about communication or international relation courses, it didn’t work though, dan saya end up belajar biologi. Kenapa dulu saya tidak memilih untuk tetap belajar komunikasi, tapi justru memilih untuk bertahan di biologi? Iya, saat itu memang ada beberapa kendala yang tidak ingin saya paksakan, tapi kalaupun ingin, saya bisa memaksa. Apa artinya? Apa iya saya memilih untuk bertahan, atau keadaan yang memaksa saya bertahan? Saya pun masih bertanya-bertanya sampai sekarang. Once again, I didn’t regret it, because at the end, science is always fascinating, isn’t it?

Dan sampai disini. Sampai di titik dimana saya berdiri sekarang, saya telah memilih banyak hal yang akhirnya membawa saya sampai kesini. Pertanyaanya adalah: Apakah pilihan-pilihan itu muncul dari hati? Ataukah pilihan-pilihan itu bersumber dari keadaan? Apakah murni saya yang memilih, atau hidup yang memilihkan untuk saya. Dari hati atau tidak, pribadi atau bukan, itulah pilihan yang saya lewati.

Pada akhirnya, memilih adalah perkara yang gampang-gampang susah.

Saya takut memilih karena mungkin pilihan saya bukan yang terbaik. Saya takut memilih karena mungkin saya tidak jujur pada diri sendiri. Saya takut memilih karena ada pihak lain yang mungkin tersakiti dengan pilihan saya. Saya takut memilih karena mungkin saya masih menunggu opsi lain untuk datang. Saya takut memilih karena saya takut menyesal. Saya takut memilih karena takut gagal.


YOU GOTTA CHOOSE, NO MATTER WHAT THE CONSEQUENCES ARE

Terlepas dari apa yang saya pilih itu benar atau salah, menyenangkan atau tidak, saya tahu saya akan baik-baik saja (at least, after a little while). Bukankah Tuhan tidak memberi cobaan melebihi kekuatan hambaNya? I’ll pass the test. I’ll survive the challenge.

You don’t have to always choose the right things, because your ‘right things’ are not their right things.

You don’t have to always do things correctly, therefore you get the lessons to learn.

one sweet memory in San Francisco. (photograph was taken by Mahdy)

one sweet memory in San Francisco. (photograph was taken by Mahdy)

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s