Tentang Janji

Banyak orang yang cenderung menyepelekan janji. Kenapa?
Karena mungkin saat mengucap sesuatu, otak kita berpikir, “okay, ini kata-kata yang paling tepat saat ini, lemme just say it.” Benar?

Tunggu satu jam, satu hari, satu minggu kemudian. Apa yang terjadi? Ada berapa banyak janji yang tidak ditepati dalam jangka waktu tersebut? Ada berapa banyak orang yang berubah pikiran dan membuat janji-janji baru? Terus, salah siapa?

Sesepele apapun, janji tetaplah janji.

Ah, tapi bukankah semua orang pasti pernah bermasalah dengan janji? Entah sekedar janji ketemuan, meeting, atau janji untuk setia. Semua orang pernah menyakiti dan tersakiti akibat janji. Disadari atau tidak.

Makanya kemudian lahir kutipan-kutipan semacam, “jangan mudah percaya janji-janji palsu.” Pertanyaannya adalah, “apakah saat perjanjian itu dibuat, kamu tau kalau itu janji palsu? Apakah si orang yang mengucap sudah berniat untuk memalsukan janji?” Jawabannya NGGAK.

Cuma waktu yang bisa membuktikan.

Tapi saya juga percaya, kalau nggak semua janji yang nggak ditepati adalah bentuk ignorance. We’ll never know what someone has gone through to finally be in certain stage, to finally make up his/her mind about certain decision.

Pada akhirnya, hal yang penting adalah:

Berusaha menepati janji. Perihal apa yang terjadi dalam proses menepati janji tersebut adalah bagian dari kejutan yang disajikan kehidupan.

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s