CRITICAL THINKING: Secuplik Pengalaman di Negeri Barack Obama

Salah satu hal yang menggelitik rasa penasaran saya sebelum menjejakkan kaki di negeri Paman Sam adalah sistem pendidikan. Sudah lama sekali sejak saya mendengar tentang sistem pendidikan di negeri barat yang katanya lebih terbuka dan dinamis, membuat saya ingin merasakan sendiri tantangan tersebut.

Berikut sekelumit cerita seputar pengalaman belajar saya di negeri Barack Obama—Amerika Serikat.

Terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa AMINEF untuk program Community College Initiative Program (CCIP)  membawa saya mendarat ke USA. Saya dan 13 orang lainnya dari beberapa negara lainnya mendapatkan kesempatan untuk belajar selama hampir setahun di Pierce College, Washington State.

Gambaran tentang berbagai kendala yang mungkin muncul membuat saya sedikit gentar di awal masa perkuliahan. “Siap-siap saja mengalami culture shock,” kata adviser kami memberikan pesan sebelum kelas hari pertama dimulai. Benar saja; masuk kelas dengan kaos oblong dan sandal jepit sudah jadi hal biasa, apalagi saat itu hawa musim panas masih cukup terasa. Tidak terlalu banyak ritual jabat tangan dan perkenalan layaknya mahasiswa baru. Sepertinya nama menjadi urusan belakangan. Suasana kelas memang terasa lebih santai, meski buat saya tetap saja menegangkan.

Di hari pertama itu juga, dosen masuk memperkenalkan diri dan membagikan silabus mata kuliah yang menjadi acuan sampai quarter berakhir (satu quarter = ± 3 bulan). Salah seorang senior pernah berpesan, “jangan sampai nggak masuk hari pertama lho, biar paham silabus mata kuliah.” Memahami silabus menjadi semacam kata kunci agar tak tertinggal pelajaran. Semua tercantum lengkap dalam silabus; judul materi berikut tanggal pembahasan, jadwal diskusi, deadline tugas, quiz, bahkan peraturan di kelas. Makan dan minum tidak jadi larangan di ruang kelas, tapi handphone yang berdering bisa kena sangsi sekotak donat. Menjaga etika berpendapat—tidak menyinggung penghuni kelas—menjadi peraturan yang tidak bisa ditawar. Menariknya, sejak hari pertama itu, dosen tidak pernah terlambat masuk kelas barang sekali pun.

Hal yang paling menarik adalah suasana belajar yang interaktif dan terbuka. Ruang kelas benar-benar menjadi ajang bertukar ide dan cerita. Buku akademis menjadi panduan belajar di rumah, diskusi menjadi hal pokok di ruang kelas.

“Critical Thinking”, belakangan, istilah ini menjadi semakin populer. Meski harus diakui, saya bukan tipe mahasiswa kritis. Bahkan beberapa kali saya sempat kaget dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di ruang kelas, “pertanyaan ajaib! Kok bisa ya muncul pertanyaan seperti itu?” Setelah dipikir-pikir, jawabannya sederhana: semuanya dimulai dari kebiasaan bertanya.

Suatu kali saya pernah diminta memberikan presentasi budaya di Elementary School (read: SD), untuk siswa kelas 2. Foto-foto yang yang saya kumpulkan dari hasil googling berhasil membuat bocah-bocah itu tertarik. Saya justru dibikin kewalahan menjawab pertanyaan mereka. “Berapa berat komodo dragon?” “Apa kudanya nggak capek kalo narik 5 orang sekaligus?” “Kok di Indonesia nggak ada salju?” “Apa gurunya marah kalau nggak ikut upacara bendera?” “Kenapa anak sekolah harus pake seragam?” Demikian sekelumit pertanyaan yang dilontarkan para siswa . Tanpa diminta oleh guru, mereka refleks bertanya begitu mendapati hal-hal yang menarik perhatian. Pertanyaan sederhana tapi muncul dari rasa keingintahuan mereka. Saya rasa, dari sinilah budaya bertanya itu dibiasakan.

Bagi saya yang tidak cukup sering bertanya saat duduk di bangku sekolah maupun kuliah,  hal ini menjadi bahan pembelajaran yang sangat menarik. Saat itu di kelas Global Business, saya tunjuk tangan, dan berbagi cerita tentang maraknya kegiatan UKM (usaha kecil masyarakat) di Indonesia; bisnis kecil-kecilan yang cukup ampuh menopang perekonomian masyarakat. Salah seorang teman nyeletuk berkomentar, “interesting! You should share more about your country.” Saya diminta untuk sering-sering berbagi cerita tentang hal-hal menarik di Indonesia yang terkait dengan materi yang dibahas di kelas. Ada kepuasan tersendiri merasakan transfer informasi yang berlangsung saat itu, ditambah lagi dengan ketertarikan mereka tentang issu yang saya paparkan. Meski berstatus international student—dengan aksen Inggris yang kadang rancu—siswa di kelas tetap aktif menyimak saat saya melontarkan pertanyaan atau berbagi cerita, sambil sesekali bertanya bila ada bagian yang kurang jelas. Tidak ada pertanyaan bodoh, tidak ada cerita yang dianggap remeh.

Perhitungan nilai akhir (IPK) yang diperoleh memang merupakan hasil kumulatif dari quiz, tugas, dan ujian akhir, tapi rasa-rasanya nilai itu tidak lagi menjadi acuan utama saya dalam menilai sebuah proses belajar. Nilai menjadi bonus yang didapat dari kerja keras, tapi proses interaktif dan partisipasi di ruang kelas menjadi tempat dimana proses belajar yang sesungguhnya berlangsung.

Akhir kata, siapkah kita membiasakan budaya bertanya sejak dini? Jawabannya, terserah anda. Salam!

Note: tulisan pernah dimuat di harian Lombok Post

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s