Update Hal-Hal Yang Terpikirkan Belakangan Ini

The world has been so busy lately. Well, it is literally always busy. And as always, time seems to run faster than it used to (really?).

Saya juga harus sering-sering diingatkan, bahkan kalau perlu diultimatum, untuk mematuhi janji “lebih sering menulis”. Eh, some promises are made to broken, isn’t it?

Belakangan, atmosfir politik di Indonesia makin seru. Pilpres berujung pada claim quick count paling akurat tentang siapa yang memenangkan Pilpres. Salah satu calon malah sudah deklarasi kemenangan. Dari belahan dunia lain, publik masih seru-serunya menunggu pertandangan final Argentina Vs Jerman. Meski menyisakan kenangan tragis dari tuan rumah, Brazil, yang dihajar habis oleh Jerman di teritorinya sendiri. Lain lagi kisah pilu dari negeri nun jauh disana. Israel lagi-lagi melakukan aksi serangan ke tanah Palestina.

Saya? Saya masih disibukkan dengan rutinitas pekerjaan kantor, tulisan-tulisan, rencana-rencana yang terus mengalir dari pikiran dan mendesak minta diwujudkan. Ah, LOVE story. I wish not to mention anything related to love story, but really it takes so much space of my brain lately. The worst yet sweetest distraction to my logic.

Our story, yes the story of each and everyone of us, is just a tiny little part of the whole story shared by more than 7 billion people living on this planet. Literally.

Dunia ini kompleks, dan kita hanyalah bagian kecil dari kompleksitas itu. Kompleksitas di dalam kompleksitas. Complicated.

Ini beberapa hal (penting nggak penting) yang terpikirkan belakangan ini:

1. Bagaimana bila tidak ada orang yang ingin mencalonkan diri jadi presiden? Bagaimana kalau tidak ada yang suka politik? Bagaimana bila semua orang pengin jadi artis? atau pengusaha? Lalu siapa yang jadi petani? Siapa yang jadi dokter? Dan saya teringat, salah seorang teman saya pernah bilang, bahwa Tuhan mengarahkan kita. Kita ada untuk melengkapi potongan-potongan kehidupan individu lainnya.

2. Technology changes lives in so many ways. Dulu saya selalu bawa buku dan pulpen kemana-mana (inget, kemana-mana!), kalau-kalau ada sesuatu yang perlu dicatat. Ketika terlupa, rasanya ada sesuatu yang kurang. Sekarang saya masih rajin bawa buku dan pulpen, tapi ketika terlupa rasanya tenang-tenang saja. Saya masih bisa mencatat dengan smartphone. Saya dulu juga selalu bawa buku bacaan, sekarang pelan-pelan mulai terganti dengan e-book yang tersimpan di handphone. See? Yang paling mengherankan adalah, saya juga membaca Al-Qur’an lewat handphone, tidak lagi membuka mushaf saat waktu lengang. Tidak ada yang berubah dengan intensitas saya mencatat atau membaca. Tapi saya mulai galau, apakah ini perubahan yang baik atau tidak?

3. Mengapa pikiran manusia sering memikirkan skenario-skenario yang bahkan kemungkinannya untuk terjadi pun kita tidak tahu? Lalu mengapa kita sibuk mencari-cari jawaban tentang bagaimana bila begini? Bagaimana bila begitu? I am, over analyzing. I know it takes so much time and energy. Literally.

4. Apakah terlalu sering mengucap “I Love You” atau “I Miss You” kepada pasangan adalah hal yang tidak baik? Kenapa? Apa karena kata-kata tersebut kemudian akan kehilangan kekuatan magisnya?
I would never mind telling you the same words each and every day. No changing, and still with its magical power.

5. I am working much better under pressureπŸ™‚

6. Saya pernah membaca salah satu status di fan page Tere Liye, bahwa ujian cinta adalah pernikahan. Ah, mungkin ini sudah saatnya untuk berani menguji cinta.

7. I need to save more money. more saving. more saving. Please remind me if I forget point 7.

8. Seorang dosen pernah bertanya beberapa waktu lalu, “kamu nggak mau kuliah lagi?, sayang lho!” Kalau harus kuliah lagi, mau kuliah apa? Spesifikasinya apa? What is your field of expertise, El? I haven’t found it yet. I’m still looking for it. Rasanya saya serba setengah-setengah. But, do I have to be an expert? If Yes, what?

Yang Terpikir saat ini adalah saya ingin lebih banyak menulis. Mengikuti short course, training, seminar, apa saja yang terkait dengan dunia kreatif, penulisan, event management, social movement, reporting, cyber world, analisis penelitian, website & SEO, sosiologi, community development. So random I know, but what should I do? All those things are inside my mind right know.

9. Apakah saya bisa menjadi orang tua, ibu yang baik untuk anak-anak saya nanti?

10. Seseorang pernah bilang bahwa Tuhan menyediakan takdir dalam bentuk pilihan-pilihan. Manusia bebas memilih, meski nanti Tuhan yang menentukan finalnya. Dan saya, saya telah memilih menjadi bagian dari kehidupan seseorang yang unik, seseorang yang spesial bagi saya. Whatever it takes, I’ll take the challenge. May Allah Bless this relationship, and hopefully we’ll make it through.

Salam peace, love, & gaul,

Eliyan

3 comments

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s