DAPUR

Dapur adalah bagian rumah yang pastinya tidak asing bagi kita semua. Dapur seringkali menjadi tolak ukur “kesejahteran” rumah tangga. Jika kebutuhan dapur terpenuhi—beras, gas, gula, minyak, lauk pauk—maka penghuni rumah setidaknya berada di level aman. Dapur identik dengan perut. Jika perut sudah aman, maka hidup pun tenang, mungkin sederhananya seperti itu.

Bagi saya, dapur bukan tempat yang asing. Sejak kecil ibu mengajari kami—anak-anaknya—keterampilan sederhana yang bisa dilakukan di dapur. Mulai dari menjerang air, menanak nasi, menggoreng telur, membuat teh atau kopi, dan memasak mie instan. Well, I call it survival skill for tummy 101. Dapur, mungkin adalah tempat dimana ibu paling sering menghabiskan waktu, mencoba resep-resep baru, mengolah berbagai bahan menjadi makanan lezat. Dapur, bisa jadi adalah nyawa bagi sebuah rumah.

Saya cukup sering berada di dapur, namun dapur bukan tempat favorit saya. Jika dibayangkan, maka tempat favorit saya adalah pojok kecil di ruang istirahat dengan bantal malas yang berukuran super besar, lemari buku di pojokan dan kulkas kecil berisi cheese cake, snack, ice cream dan minuman segar. Heaven!

nasi goreng telur kacang ala chef El

Lalu bagaimana dengan dapur?

Menurut saya, cinta adalah alasan terbesar mengapa dapur menjadi tempat nomor satu di rumah. Tidak, ini bukan tentang menjadi juru masak atau chef profesional. Ini tentang “dapur” yang tanpa disadari menjadi saksi ekspresi cinta yang luar biasa.

Jika bukan cinta, apakah seorang ibu rela masuk dapur lebih dari 3 kali sehari untuk menyiapkan makanan untuk keluarga? Jika bukan cinta, apakah kamu rela bangun tengah malam untuk menggoreng telur mata sapi dan mie goreng untuk adikmu yang terbangun karena lapar? Jika bukan cinta, apakah kamu rela meluangkan waktu mencoba berbagai resep makanan untuk dinikmati orang terkasih? Jika bukan cinta, apakah kamu rela berpanas-panas di dekat wajan, berkotor-kotor dengan adonan dan bumbu dapur? Jika bukan cinta, lalu apa?

Bukankah cinta adalah energi terbesar di muka bumi ini?

lik lik ketujur (daun turi)

lik lik ketujur (daun turi)

Dapur mungkin bukan tempat favorit saya, tapi cinta yang akan selalu membuat saya berlama-lama disana. Memastikan orang-orang terkasih mendapatkan makanan lezat yang menyehatkan.

Apa arti dapur menurut Anda?

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s