Forgiveness Therapy: Sudahkah Kita (Benar-Benar) Memaafkan?

Seberapa banyak, seberapa sering, reaksimu terhadap peristiwa di masa kini dipengaruhi oleh masa lalu?

Itu adalah pertanyaan krusial yang muncul dalam benak saya setelah mengikuti workshop Forgiveness Therapy (FT) bersama Asep Haerul Gani, psikolog (beliau akrab dipanggil Kang Asep) selama dua hari (16-17) di bulan Juni. Ketika ditanya seputar lesson learned dari workshop tersebut, saya menemukan jawaban dari cukup banyak pertanyaan yang ujung-ujungnya muter pada bahasan “kenapa saya begini? Kenapa saya begitu? Kenapa respon saya seperti ini? Kenapa orang bertindak demikian? dan pertanyaan sejenis”. Tentunya jawabannya tak semua pasti, beberapa masih dalam ranah “bisa jadi” setidaknya sampai saya menemukan pusat reaksi (melalui eksperimen pribadi).

Tema ini bukan hal baru, mengingat suami saya beberapa kali menyebut tema ini berikut istilah-istilah di dalamnya dalam percakapan kami. Well, berhubung saya adalah tipe yang-seringkali-terlalu-banyak-nanyak-dan-nggak-lantas-percayaan, jadilah beberapa teori yang ia jelaskan justru menjadi pertanyaan yang terus-menerus saya pertanyakan (dalam diri).

IMG-20170620-WA0017

Pose bareng Kang Asep dan Bunda Ai 🙂

Misalnya saja ketika saya kurang setuju saat suami pengen manjangin rambut. “Kamu pasti punya memori kurang baik tentang rambut panjang a.k.a gondrong sampai nggak suka gini,” katanya. Jawaban saya standar, “Nggak suka ya nggak suka aja. Nggak harus ada alasannya.” Pikir saya waktu itu, “duh apa iya sampe hal sesimpel itu harus saya recall dan relate ke memori masa lalu?” Ribet.

Ternyata saya salah.

Pasca workshop FT, saya membaca beberapa buku terkait tema tersebut, browsing gugel, sambil refleksi diri. Saya membuat kesimpulan pribadi, “Preferensi, tingkah polah, reaksi, kita di masa kini, jika tidak semuanya, maka hampir sebagian besar punya kaitan dengan apa-apa yang kita alami di masa lalu”. Yang membuat saya lebih takjub lagi adalah masa lalu, past, kata atau tema yang banyak mendominasi tulisan saya di blog (saat masih rajin ngeblog, hehehe), technically bukan hanya sekedar peristiwa, bukan hanya kenangan yang jleb over gitu aja, segampang bilang forget the past and move on. Aslik nggak! Masa lalu ternyata hidup dalam bentuk emosi, dan unfortunately, ia sering bahkan sangat sering menampakkan dirinya di masa kini, meski lebih sering tidak kita sadari.

Efeknya bukan hanya reaksi emosi namun juga rentetan peristiwa yang kita alami. Kalau istilah psikologinya sih unfinished business. Misal? Orang yang kerjanya nggak betah alias jadi kutu lompat, pindah kerja sana-sini. Orang yang melulu punya masalah dengan percintaan atau hubungan personal lainnya. Seriously, kita seringkali nggak sadar, atau bahkan nggak percaya. Kenyataanya, banyak peristiwa berulang yang merupakan manifestasi dari emosi di masa lalu. Untuk referensi yang lebih banyak, silakan gugel dengan kata kuci: unfinished business, inner child, forgiveness therapy, and any like-terms.

Ngeri-ngeri sedap, cuy!

Salah satu penjelasan Kang Asep yang saya suka adalah perihal dzhalim terhadap diri sendiri. Dzalim yang muncul akibat ulah sendiri, emosi negatif yang menguasai, reaksi berlebihan terhadap hal-hal sederhana yang skenario-nya diimprovisasi sedemikian dramatis dan diputar berkali-kali. Duh Gusti, kami dzolim!

Rabbana dzolamna anfusana…….

IMG_20170704_072831

Suamik: The man behind this great workshop!

Pelan-pelan saya mulai lebih mudah me-recall memori masa lalu dan menemukan jawaban atas beberapa reaksi saya terhadap sebuah peristiwa. Uniknya, beberapa recalled moments justru muncul dari masa-masa dimana saya ada di usia pra-sekolah dan SD. You know, I love recalling past, but at this time, saya melihat masa lalu sebagai sebuah dimensi yang istimewa, bukan sekedar ingat-kemudian-tetiba-nangis- seperti yang sudah-sudah.

Berikut adalah beberapa personal note yang saya dapat dari workshop FT selama dua hari tersebut. Ulasan lainnya bisa teman-teman gugel sendiri dengan keyword setema.

  • Kita seringkali mengaku telah memaafkan, merasa telah memaafkan, meyakinkan diri telah memaafkan, padahal nyatanya BELUM.

Ini adalah PR masing-masing orang. You know, I mean, pada akhirnya yang penting bukan pada sebatas “pihak bersangkutan tahu bahwa kita sudah memaafkan”. Tapi, apa benar iya? Apakah kita sudah benar-benar memaafkan? Ingat, efek jangka panjangnya bukan pada orang lain, tapi diri kita sendiri. We don’t necessary need public’s approval. Forgiveness is an “inside” business. Work on it. Continuously.

  • Kita banyak menolak, meragukan, tidak percaya, merasa tidak butuh, merasa lebih tahu, akan hal-hal yang sebetulnya penting untuk diri kita sendiri.

This is a special note for me. Well, mungkin juga sikap saya di poin dua ini dipicu oleh skema masa lalu, hehehe. It’s okay kok, asal mau dan siap belajar. Justru hal di atas menjadi pecut untuk membaca lebih banyak, belajar lebih banyak, bergaul lebih banyak, be open minded. Once I found the truth, it always felt like a slap on my face. And I loved it!

  • Semua orang adalah guru.

Semua orang, lepas dari apapun identitas yang lekat padanya, punya belantaranya masing-masing. Baik atau buruk, suka atau tidak suka, orang-orang yang dipertemukan dengan kita adalah guru untuk belajar. Jika sudah bicara belantara, maka tangguhlah dan nikmati petualangan dalam belantaramu!

  • You’re the key to everything around you, to everything that happens to you.

Kita adalah kunci pada segala yang ada di sekitar kita. Your positivity will attract positive things and vice versa. Bahkan Allah SWT berkata, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku.” It’s never an easy work, but it’s highly possible to do and to grow as habit. Bergerak bareng, kuy!

  • Self-Exploration, Self-Discovery

Lebih tepatnya saya nggak tahu mau pakai istilah apa. Namun ternyata menarik ketika kita bisa keluar dari ke-aku-an kita, dan melihat diri dari dimensi berbeda. Mencoba mengeksplor emosi masa lalu, mengingat kembali apa-apa saja yang pernah terjadi, respon kita terhadapnya, etc..etc.. It is a huge thing! Ini sebenarnya sebagai reminder bahwa setiap hari kita memang butuh waktu untuk refleksi, as we always read in theory.

Poin ini yang membuat saya banyak me-recall masa lalu. Cognitively aware and curiously learn terhadap apa yang pernah saya alami di masa lalu hingga menimbulkan respon tertentu di masa kini

  • Kapan kita dikatakan memaafkan? Berteman dengan masa lalu?

Saat kita mengingat, mengenang, atau bercerita tentang hal-hal tidak mengenakkan tanpa melibatkan emosi negatif, tanpa perubahan biologis dalam tubuh, no more nyesek, no more self-pity. Semua berganti respon positif.

Coba recheck kembali emotional state kita saat mengingat peristiwa tidak mengenakkan.

  • Kenali Cluritmu!

Peristiwa buruk yang dianalogikan seperti clurit oleh Kang Asep bisa menjelma dalam berbagai bentuk yang dipicu oleh aneka momen dengan ragam emosi saat itu: marah, dendam, sedih, kecewa, merasa tak berharga, tak dianggap, etc..you name it. Itu semua adalah clurit! Itu semua harus pelan-pelan dikenali untuk kemudian dimaafkan! Remember: It’s okay to not be okay. Dirasakan, dinikmati, hingga meosi negatif itu mengalir keluar. When you’re done, you wake up as a brand new person! 

  • Afirmasi Positif, Good or Bad?

Afirmasi positif itu baik, namun tak jarang hanya menjadi perban luka semata sehingga perbannya harus terus-menerus ditambal agar tak bocor. This not gonna happen, kalau lukanya diobati dulu, dikeluarkan nanahnya, ditunggu kering. Jika sudah demikian maka afirmasi positif mampu menjadi magic spell.

*this is also a special note for me. Saya kerapkali merasa sudah baik dengan banyak melakukan afirmasi positif. Nyatanya saat dikulik masih nyesek. Lyf.

  • I love me more….

Terima kasih, Allah..

Di titik manapun kami berada nanti ya Allah, ingatkan kami, bahwa tidak ada secuil urusan pun yang lepas dari campur tangan-Mu. Kau percayakan kami untuk membuat pilihan-pilihan, menjalani keputusan, Kau izinkan kami memaksimalkan usaha, lalu Kau menggenapi-Nya dengan Rahman-Rahim Mu.

Jadikan kami, keluarga kami, anak keturunan kami, manfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk di semesta raya..

I love me!

IMG_20170704_072809

Nuhun, Kang Asep atas ilmunya

Closing statement untuk workshop ini thumbs up alias keren banget! Nuhun, Kang Asep, yang sudah membangunkan salah satu bagian dari diri ini.

Buat yang butuh Power Point workshop forgiveness therapy-nya Kang Asep, feel free to leave comment atau email. Untuk hal-hal lain terkait Kang Asep, semisal mau beli buku atau ikut aneka workshop-nya langsung cek kontak beliau aja.

c (1)

Pose bareng tim MSI

Sorry doesn’t seem to be the hardest word anymore.

Kuy, belajar memaafkan!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s