Tentang Share For Care

Saya ingat kali pertama kami bertemu—Mba Lastri, Mba Rini, dan saya— November 2013 di salah satu kafe kopi di Cakra. Di bulan Oktober kami pernah bertemu namun tidak secara spesifik membahas sesuatu. Kami hanya berkenalan.

Perkenalan pertama kami, Oktober, di Santika Hotel

November di Kafe Maktal, saya tidak ingat persis tanggal berapa, weekend, hari Sabtu, jelang sore: disitulah cerita tentang Share for Care dimulai.

Kami mengawalinya dengan cerita-cerita seputar kehidupan pribadi. Mba Lastri saat itu baru punya Raya yang umurnya belum genap 2 tahun. Mba Rini belum genap 2 tahun jadi warga Lombok. Saya masih berstatus single, free, and always available. Hahaha. Saya ingat betul, Mba Rini yang paling getol menanyakan kisah cinta saya. Kapan putus? Sekarang jalan sama siapa? Eyaaa..eyaaaa, sambil bercerita tentang kisah cintanya dengan Oom Idip yang dimulai dari sapaan ringan di Facebook. Wohooooo….

Eliyan – Lastri – Rini, diskusi pertama di Maktal

Siang itu kami sepakat meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak di Desa Segenter, setap Sabtu atau Minggu, setidaknya satu kali dalam dua minggu. Fun English. Eksekusi pekan depan.

Deal.

Kak Carlos, Kak Tomy

Awal-awal mengajar dulu..

Sebelum hari Minggu yang kami sepakati tiba, saya bertemu Carlos di Rock Gilis Café. He was maybe the most famous kid in town back then. Kami banyak bercerita tentang pengalaman di USA, wanna do this, gotta do that, bla..bla. Saya sedikit bercerita tentang rencana Minggu, dan surprisingly, he decided to join.

Deal.

Minggu pagi yang cerah, kami (Mas Fian (suami mba Lastri), Mba Lastri, Mas Idep, Mba Rini, Carlos, dan saya) mengajar untuk kali pertama ke Segenter. Our first Share for Care time.

Kami mengumpulkan anak-anak, meminta mereka membuat lingkaran besar, membaginya dalam beberapa kelompok sesuai kelas. Action time!

Good morning. How are you. I am fine. Thank you.

One. Two. Three. Four. Five.

Apple. Orange. Watermelon.

Rain rain go away.

They loved it!

We loved them.

Deal.

Seiring berjalannya waktu kami tidak lagi ber-6. Ada Tomy, Kak Ifan, sesekali Abeng. Ada Mas Yudik, Mba Pipit bersama jagoannya. Ada Mas Didi, Firman, dan Nurul. Sesekali ada Kak Guna dan Amel. Pernah bersama Kak Leony dan Kak Ona, juga Mas Wisnu. Kemudian ada Vania, Firman, Nuke. Ada Mega dan Sarah. Ada kak Vivin. Kak Hafiz. Bu Dokter Yuyun. Kak Arasy. Dan banyak lainnya yang tak bisa saya sebutkan.

Tahun 2015, saya mencatat ada sekitar 60 volunteer yang ikut bergerak bersama Share for Care.

Jumlah yang cukup fantastis untuk gerakan sederhana yang tak ber-profit. Donasi terus mengalir dari tangan-tangan dermawan yang percaya kami menjadi perpanjangan tangan mereka. Beberapa komunitas dan organisasi mengajak kami berkolaborasi. Kami bahagia menyambutnya, terbayang senyum anak-anak yang penuh harap.

Mba Rini yang paling sibuk menyiapkan bahan ajar (sampai sekarang pun!). Dia yang memastikan print out materi, color pen, buku, dan lain-lain bisa terdistribusi merata. Dia yang paling getol browsing mencari bahan ajar yang menarik. Dia yang paling cerewet memastikan semua well-planned sebelum terjun ke lapangan.

Mba Lastri biasanya sibuk dengan urusan kehumasan; mengobrol dengan Pak Kepsek, menanyakan ini itu kebutuhan sekolah, dan membuat rencana aksi bantuan.

Saya sibuk di kelas bersama pengajar lainnya. Meski tidak sibuk-sibuk amat jika dibandingkan dengan Mba Rini atau Mba Lastri. Mungkin lebih tepatnya, saya sibuk belajar. Jujur, saya belajar tentang mengajar, tentang menjadi guru, lewat Share for Care. Iya, Share for Care yang menempa saya; untuk bisa luwes ke anak-anak, bisa tetap cool meski mereka jejeritan di dalam kelas, berinteraksi dengan bahasa sederhana, memahami ragam karakter, and the list goes on and on…

Dari mba Rini saya belajar mengkreasikan pelajaran lewat lagu dan aneka permainan. Aslik, awalnya saya nggak peka soal yang satu ini. Kini, saat mengajar, secara refleks ide-ide tentang harus apa dan bagaimana agar kelas tetap hidup mengalir dengan sendirinya. Thanks God, I met Mba Rini.

Mas Idep selalu siap menjadi driver andalan. Banker gahol yang mungkin di kehidupan sebelumnya adalah seorang pak guru baik hati. Hehehe.

Pak Raya yang selalu bermurah hati meminjamkan mobilnya. Man, I miss that green Katana.

Mas Yudi dengan mobil besar yang siap mengangkut aneka donasi ditambah kue-kue lezat dari Mba Pipit.

Mas Didi yang selalu jadi supporter setia lewat Bale Digital dan siap membantu apa-pun-yang-bisa-ia-bantu.

Bu Dokter Yuyun yang gaul tapi ringan tangan, murah hati dan selalu siap sedia untuk anak-anak.

Carlos, Firman, Radhe, Nuke, Vania, yang selalu penuh energi muda dan kreatif.

Faisal, Kak Vivin.

Wulan, Devi, Bagus, the millennial kiddos.

Okay, sampai disini saya kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan semuanya satu-satu.

Terlalu banyak orang-orang hebat yang bergerak bersama lewat Share for Care.

Terima Kasih.

Ada satu yang tak pernah berubah setiap kali saya turun lapangan bersama SFC: sambutan hangat anak-anak. It’s something like they have been waiting long enough to finally meet you for two hours or so. Dan saya, selalu ada tangis haru yang saya simpan dalam-dalam setiap kendaraan kami memasuki area sekolah. Mengapa? Karena binar dan kerinduan di mata-mata itu. Sesuatu yang membuat kamu tak peduli jarak dan rintangan demi melihat binar itu di mata mereka.

Ahh, mungkin rasa seperti ini yang dirasakan mereka yang mendedikasikan hidup untuk mengajar di daerah terpencil. Mereka mencintai apa yang mereka lakukan karena binar di mata-mata anak. Binar itu adalah binar harapan masa depan.

Ada banyak dinamika dalam berkomunitas. Ini adalah sebuah konsekuensi logis. Suatu keniscayaan. Demikian juga dengan Share for Care. Pernah merasakan serunya berkegiatan dengan jumlah volunteer yang banyak, kami juga merasakan kepayahan saat relawan mulai sibuk dengan rutinitas lain yang mereka lakoni. Kehidupan kampus, pekerjaan, rumah tangga, keluarga. Keniscayaan sebagai manusia yang berproses. Ada yang pergi (dan pasti kembali!), ada juga yang datang.
Saya sendiri tak selalu bisa ikut mengajar lagi. Lebih sering alpanya ketimbang hadirnya. Ada rasa nelangsa yang tak bisa saya tuliskan perihal yang satu ini. Tapi satu yang pasti, SFC selalu di hati. Saya selalu ingat kata Mba Rini dan Mas Idep:

“Ini bukan tentang sisa waktu, tapi memberikan waktu terbaik yang kita punya”

Sudahkah (saya) memberikan waktu terbaik? 

Sebisa mungkin SFC tetap bergerak, meski perlahan. Program mengajar satu kali dua minggu ke sekolah binaan tetap berjalan. Anak-anak di SD binaan kami pastikan tak putus sekolah dengan membantu biaya sekolah mereka, mencari beasiswa pendidikan, orang tua asuh. Kami siap pasang telinga untuk curhatan guru-guru dan urun bantuan semampunya untuk membantu proses belajar-mengajar. Kami ingin membantu masyarakat setempat agar lebih berdaya secara ekonomi. Kami membuka diri selebar-lebarnya bagi mereka yang ingin bergabung, berkontribusi, lewat apa saja. Kami ingin bermitra untuk kemanfaatan.

Jika setelah membaca postingan ini kalian tertarik untuk menjadi bagian dari Share for Care, silakan klik blog share for care untuk tahu lebih banyak tentang aktifitas kami. 

Dare to share? Dare to care? 

Yuk kita bergerak bareng lagi! 

*all pictures taken from SFC Blog
 

Advertisements

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s