ParenThink Bersama Mona Ratuliu

Istilah parenting, belakangan makin sering digunakan. Kegiatan parenting pun makin menjamur. Mulai dari parenting kecil-kecilan, antar ibu-ibu kompleks, kantor, atau komunitas—berbagi pengalaman pribadi, kemudian belajar dari masing-masing anggota. Parenting dengan menghadirkan pakar atau tokoh/publik figur yang dianggap sukses di dunia pengasuhan.

Di ranah online, akun-akun sosmed yang membahas parenting pun bertebaran. Ada akun institusi/komunitas/penggiat yang memang concern pada pengasuhan. Akun milik artis dan selegram yang berbagi tips parenting dan foto-foto menggemaskan sang anak.

Banyak dan beragam. Memudahkan kita semua, siapa saja, untuk belajar.

Pada tataran praktek, mereka yang telah menjadi orangtua tentu paham betul, bagaimana parenting kemudian bukan hanya sekedar  definisi atau teori atau semacam sharing success story pengasuhan yang bisa dibaca di akun-akun sosmed. It might be something we never  know until we experience it, dan uniknya satu tema yang sama bisa jadi punya alur cerita yang berbeda-beda.

20171126_081112

Just before we started..

Saya iseng nge-google tentang makna kata parenting dan menemukan ini:
Asal katanya adalah parere (latin) yang artinya ‘bringing forth’, membawa maju (maju udah pasti ke depan dong ya!). Artinya peran parenting adalah menyiapkan anak untuk menjalani tiap tahapan dalam hidupnya hingga menjadi individu yang dewasa. Interesting!

Screenshot_2017-12-07-14-19-09-1

interesting!

Dalam skala yang lebih luas, maka sebenarnya setiap kita yang bersentuhan dengan anak-anak, dapat mengambil peran parenting tersebut sesuai dengan porsi kita masing-masing. However, semuanya dimulai dari rumah.

Saat ikut seminar forgiveness therapy dari Kang Asep, beliau menjelaskan tentang bagaimana anak-anak menyimpan pola-pola asuh dari perlakuan orangtua dan orang dewasa di sekitarnya. Kemampuan merekam ini sungguh sangat luar biasa, yang efeknya tanpa disadari kerap berulang hingga generasi berikutnya.

Belakangan saya juga tertarik dengan artikel-artikel mengenai epigeneticwhich is the ability of genes to be activate or deactivate, but does not involve changes in DNA sequence. Yang membuat saya tertarik adalah bagaimana epigenetic may consist of hal-hal kecil yang kita lakukan, semisal kebiasan tidur, makan, life-style choice, hal-hal yang kelihatannya nggak berhubungan sama sekali dengan DNA and those complicated biochemical reaction dalam tubuh ternyata juga direkam sampai di tingkat gen, dan bisa jadi diturunkan ke generasi berikutnya. Wow! Don’t you think it is amazing? (read here, to know more about epigenetic!)



“The change begins in you” begitu kata pepatah. Bahwa lepas dari apapun itu, we are the driver, kita yang memutuskan mau apa, akan kemana, bagaimana caranya.

Kaitannya dengan parenting?
Artinya parenting adalah proses yang luar biasa kompleksnya. Membayangkannya saja saya takjub. Saya membayangkan bagaimana kita kemudian berkontribusi sedemikian besarnya terhadap keturunan kita. Yang artinya jika ingin generasi yang lahir dari kita berkualitas, maka kitalah yang harus mulai memperbaiki kualitas. Dan proses ini sesungguhnya tidak dimulai saat seorang ibu hamil ataupun saat menikah. Proses dimulai jauh sebelum kita berkeluarga. Proses dimulai dari kita sebagai pribadi.

Subhanallah, Amazing!

Alhamduillah, dua pekan lalu (26/11) saya mendapat kesempatan untuk belajar di seminar parenting yang digagas oleh Andalusia Parenting Community. Temanya menarik “Tantangan Pengasuhan di Era Digital”. Pas banget dengan kebutuhan orangtua masa kini.

Screenshot_2017-12-10-18-25-06-1

Pembicara seminar (Mona Ratuliu & psikolog L. Yulhaidir) / photo: Mona Ratuliu Fb page

Ada dua pembicara utama di seminar ini. Pertama, L. Yulhaidir psikolog yang banyak membahas tentang fakta-fakta yang ada di sekitar kita sekarang ini. Tinggal di pulau kecil, seringkali membuat kita merasa aman, like what we see on TV is just on TV, padahal kasus-kasus di TV juga terjadi di sekitar kita. Beliau juga menceritakan pengalaman membersamai anak-anak dengan tantangan beragam yang sebetulnya akar masalahnya bukan dari anak itu sendiri, tapi dari orangtua, orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Ujung-ujungnya kembali lagi ke pola pengasuhan—parenting.

FB_IMG_1512900177243

sharing session Bunda Mona Ratuliu / photo: Mona Ratuliu Fb page

Pembicara kedua adalah Mona Ratuliu. Saya sendiri awalnya tak tahu banyak tentang kiprah Mba Mona di dunia parenting sampai akhirnya saya didaulat untuk ngemsi seminar ini. Saya browsing, follow Instagram, sampai akhirnya rajin baca postingan di monaratuliu.com. Pengalaman pribadi dalam mengasuh tiga orang anak, kemudain dituangkan Mba Mona lewat buku ParenThink. Judul bukunya aja udah ear-catching banget, walhasil isinya pun demikian. Simple, aplikebel, dan yang paling penting, buku  ini bisa menjadi support bagi ortu-ortu lainnya: convincing that you’re not alone facing all those parenting challenges.

20171126_103310

Yanda Indra Brasco ikutan sharing tentang parenthink!

Mba Mona berhasil menarik perhatian saya sejak menit awal. “ParenThink” adalah istilah yang ia gunakan untuk menyebut orangtua pembelajar, orangtua yang berpikir, yang cerdas; karena kunci menjadi orangtua adalah terus belajar, mengupdate diri, melakukan self-improvement agar bisa mendampingi anak-anak menuju tumbuh kembang yang maksimal.

Very Impressive.



Menariknya, Mba Mona mampu me-relate isu-isu pengasuhan yang dialami orangtua zaman sekarang dengan aplikasi teori parenting lewat bahasa yang sederhana.
Apa aja? Yuk deh saya share hal-hal menarik yang saya peroleh dari seminar parenThink.

FB_IMG_1512900130323

full seat / photo: Mona Ratuliu Fb page

1. Target asuh didik
Target asuh didik maksudnya adalah target-target “kurikulum” yang harus dipenuhi saat anak mencapai usia tertentu. Seperti halnya perkembangan fisik-motorik; 6 bulan sudah bisa duduk, 12 bulan berlari, maka perkembangan mental anak juga ada targetnya. Misalnya, anak-anak harus belajar membuat keputusan (sesimpel pilihan kapan harus mandi), bersepakat dengan orang lain, mengelola emosi, etc. Menarik, karena ortu bisa membuat kurikulumnya sendiri dan memilih strategi yang paling tepat untuk mencapai target tersebut.

“Di keluarga kami, target belajar anak-anak saya adalah agar mereka bisa mengambil keputusan mandiri dan rasional sebelum menginjak usia 13 tahun,” kata Mba Mona. So, Mba Mona merancang hal-hal yang hendak dicapai berikut strateginya, yang pastinya berbeda untuk masing-masing anak.
“Jati diri anak sudah harus terbangun dari rumah, aplikasinya dicoba di luar rumah. Bukan sebaliknya, anak mencari jati diri di luar rumah” best saying nih!

2. Parenting Ala Indonesia
Tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, telah mewariskan pesan yang luar biasa: ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Pesan ini sebetulnya ampuh banget sebagai acuan asuh didik. Anak adalah peniru ulung, kitalah yang menyediakan teladan untuk ditiru, membangun dalam proses, dan menjadi penyemangat untuk terus tumbuh berkembang.

3. Bergaul Lahir Batin
Anak bisa merasakan energi tulus yang kita berikan. Setiap ngobrol, berinteraksi, atau melakukan aktifitas sekecil apapun, lakukan dengan sepenuh hati, lahir dan batin. Seringkali, interaksi bukan tentang  lama atau sebentar, tapi kualitas interaksi tersebut.

4. Membangun Fondasi
Mba Mona membuat daftar beberapa skil penting yang harus dimiliki anak sebelum memasuki usia remaja. Skill ini ibarat fondasi bangunan, jika sudah kuat, maka anak akan terbantu saat terjun di lingkungannya, bertemu dengan orang banyak, dan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang lebih kompleks. Sebetulnya, ini juga adalah penjabaran dari poin pertama di atas. Beberapa skill tersebut diantaranya adalah: belajar kecewa, belajar memilih, belajar berjuang, dan belajar bersepakat.

5. Konsisten!
Pengasuhan butuh konsistensi. Konsistensi akan membantu anak menemukan pola hingga menjadikannya kebiasaan. Dalam praktiknya pasti akan ada saat-saat dimana orangtua galau antara terus konsisten atau kasihan. Keep practicing! Dalam hal ini, kuncinya semua ada di orangtua.

Very well delivered. I enjoyed the session so much!

IMG-20171126-WA0015

Yay! Dapet bukunya!

Nah, biar lebih komplit, langsung baca bukunya aja! Dan kalau ada kesempatan ikutan seminar Parenthink-nya Mba Mona, atau mungkin mengundang beliau jadi pembicara di kegiatan parenting. Hehehe.. Salut juga buat buibu dari Andalusia Parenting Community. Tetap semangat berbagi positif parenting yak!

FB_IMG_1512900034045

Buibu dari Andalusia Parenting Community (photo: Mona Ratuliu Fb page)

Well, saya tahu ini nggak sesimpel apa yang saya sarikan di postingan ini. Parenting is much more than just theories, sweet caption and photos, and this or that..bla..bla thingy. At the end: it’s all worth it.

IMG-20171126-WA0020

Bareng sebagian buibu panitia

Buat yang mau liat keseruan seminarnya, nih ada cuplikan video dari harian suara NTB. Diklik ya!

Youtube Seminar Parenthink Mona Ratuliu

Last word:

We are all parents.
So,
Welcome to parenting!

Advertisements

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s