Tentang Makanan dan Kenangan (di dalamnya)

Taste isn’t just about the way food hits your tongue. It has something to do with memory.

Percakapan di suatu sore:

Vika: Saya tahu, pasti bukan KaLen (panggilan saya di rumah) yang masak ini. Rasanya ndak kayak gini.

Saya: Weeee, itu cara masak cumik baru, pake bumbu yang lain. Enakan sih itu..
Vika: Tapi bukan ini yang saya pengen….

20170807_081608

Lovely Sister

Sore itu, pengakuan adek, membuat saya tersadar, bahwa mungkin penilaian akan makanan, tak sesimpel mengatakan enak, nggak enak, suka, nggak suka. On the surface, penilaian objektif akan makanan berasal dari jenis dan jumlah bumbu yang digunakan, kualitas bahan, printilan terkait kadar air, minyak, suhu, penyedap dan lainnya. Tapi yang ini lebih kompleks, lebih dari sekedar keahlian lidah mengecap rasa. This all involved memory.
I agree about this.
Tampaknya, hal ini pula yang jadi alasan, mengapa masakan ibu selalu yang nomor satu. Meski rasanya bisa jadi kalah dari masakan ibu-ibu lainnya. Makanan favorit? Masakan ibu. Period.
Ini karena kita dibesarkan dengan makanan yang lahir dari olahan tangan ibu, semenjak bayi, hingga dewasa. Setiap hari selama bertahun-tahun. Kita tumbuh bersamanya.
How could you forget it, darling?
Tak heran, mengapa Bapak, juga dengan mudahnya menebak jika bukan saya yang membuat masakan untuknya; ikan bumbu kuning, sambal, bahkan kopi. I used to be part of his daily meal (of course after mom’s gone).
“Kalo KaLen yang buat pasti kunyitnya banyak,” ujar beliau suatu hari saat kami tengah menikmati semur ikan. 

I’m honored and sad at the same time, knowing that I can’t cook very often for him again.

Adek bontot saya, saat pulang liburan, selalu maksa untuk dimasakin apa aja, yang penting masak. Saya tahu, alasannya bukan semata-mata karena rasa. It’s easy, she can  buy food. Delicious food. No, not because I cook delicious food, tapi karena rindu akan rasa masakan saya yang sebenarnya biasa-biasa saja.

20170804_154355

jajanan ala-ala 

Dalam konteks berbeda, setelah berkeluarga, misalnya, saya juga beradaptasi dengan selera makan suami dan keluarga. How I used to cook meals is different to the new family; termasuk misalnya, kadar bumbu yang dipakai, takaran air, minyak dan sebagainya. Saya biasa masak sayur bening dengan tamabahan sedikit garam dan irisan tomat. Disini, ada tambahan irisan bawang. Unik.

Kadang saya juga dapat protes karena gorengan telur atau tahu tempe kurang garam, dan sambal yang terlalu pedas. Fact is, I love plain taste  (thus I added very little salt) and super spicy sambal. Well, I learned.

20170811_100821

super spicy sambal

Suami saya pun beradaptasi dengan hal yang sama. Belajar menikmati masakan istri, sembari ngasi masukan disana-sini. Hehe.. Dan nanti, di masa yang akan datang, masakan saya akan menjadi legend, karena akan menjadi bahan obrolan generasi berikutnya. Isn’t it sweet?
Ah, membayangkannya, saya jadi semangat belajar masak!

I’m not good at cooking.
But, knowing someone is missing my food, makes me feel so good!

“the stronger our memory is of a certain food, the more likely we are to choose it—even it is the more unattractive option” ~ (Memories influence choice of food: research conducted by psychologist at Basel university)

Advertisements

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s