A TIME-COUNTER GIRL

Time flies fast

When it is spent doing something you like

and shared with people you love

 
The quote above is somehow true. Well, at least for me. Of course, throughout the year, things didn’t always run well, people didn’t always treat you nice. But, after all, when you count them all–moments, memories–you will always end up having more good things. Especially when you are able to turn all the bad into positive ones. There are always always more things to be thankful for than to be complained.

 

Here we are now: 2019

20190101_092225
Bagi seorang time-counter seperti saya, pergantian tahun, sebetulnya dalam skala kecil sama dengan pergantian hari, pergantian jam. Time is tickling; it is moving. Angka-angka sebetulnya hanyalah pengingat saja, agar manusia bisa mengukur dirinya; ada dimana ia sekarang, apa yang sudah ia lakukan, apa yang akan dia lakukan, dst..dst.

 

20190101_093042

Thanks, Love 🙂

I name myself “a time-counter”—penghitung waktu. It is one of unique things about me that I used to keep only to myself. Saya punya limit waktu untuk hampir semua hal. Bahkan printilan-printilan kecil, semisal mandi, makan, dst. Saking ngitungnya, saya terbiasa menyebut detail menit saat janjian. Misalnya, instead of saying, bentar lagi nyampek, maka saya akan menyebut waktu dengan lebih detail, “7 menit lagi sampe”. Iya, saya mengkalkulasi waktu untuk sampai ke tujuan, lengkap dengan segala kemungkinannya; ya macetnya, ya parkirnya, semua.

 

Saya nggak akan janji ketemuan kalo waktunya nggak cocok atau saya nggak yakin bisa. Tapi sekalinya bilang ya, saya pasti akan berusaha untuk memenuhinya. Kalaupun harus cancel atau telat biasanya saya sudah antisipasi dengan konfirmasi di awal.
Saya ingat, dulu di awal-awal pernikahan, suami saya pernah bertanya: “kenapa saat bangun kamu selalu seperti terburu-buru?” yes, that happened when I woke up late, even just for a few minutes. Karena setelahnya saya akan membayangkan waktu yang nggak cukup buat masak, prepare ini itu, yang akhirnya berpotensi mengacaukan jadwal hari itu. It’s too much, I know.

 
Di satu sisi, hal ini membantu saya hidup disiplin dan terbiasa beraktifitas dengan ritme. Di lain sisi, hal ini membuat saya seperti berkejaran dengan waktu. Saya selalu ingin mengerjakan sebanyak-banyaknya hal dalam satu waktu, khawatir waktu saya habis untuk leyeh-leyeh tak produktif. Setelah ini, ada itu, lalu ini dan itu, begitu seterusnya. Bukan, bukan berarti saya tak leyeh-leyeh sepanjang hari. I do, of course! Tapi ini bukan saja perihal aktifitasnya, melainkan pikiran yang muncul saat aktifitas dilakukan.

 
Ini juga salah satu alasan mengapa saya lebih suka saat sesuatu direncanakan di awal, baik itu jalan-jalan atau liburan. Kalaupun bukan rencana komplit, minimal ada pemberitahuan di awal, jadi saat waktunya tiba, minimal pikiran saya tak direpotkan oleh janji atau hal-hal lain yang belum terselesaikan.

 

Saya khawatir waktu berlalu, sementara saya tetap di situ-situ saja, tak melakukan apa-apa, tak tahu hendak kemana atau harus apa. Is it called  time anxiety?

I believe it is good to be discipline about timing, having all things set up in schedule.
However,
I also believe it is not good to worry too much about timing, to rush to get something done.

 
All things that happened in 2018 have allowed me to discover more about how this very unique trait played its role in my life. And no matter what, I’m grateful for what happened in my life that has brought me to become the person I am today.

I learned:

Being a time-counter doesn’t make me more productive. These two are very different. Me, being a time-counter, somehow relates to my anxiety (it is another thing!). Still, it is me, and it is okay.

 

 

I will still be a time-counter, now or later. But, this time, it will be different. This time-counter girl has discovered new way to still be a counter and flow within it. To appreciate times and enjoy moments. To be productive, but not to rush. To be brave to take a risk, not to regret. To treat herself as her best friend, even more than ever. To treat this life as a work on progress that only ends when it really ends.

Alhamdulillah.

Advertisements

Leave Your Foot Prints

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s